Spanyol Akhiri Mimpi Terakhir Ronaldo di Piala Dunia

  • 07 Jul 2026 06:38 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Dallas – Ada banyak cara mengakhiri sebuah era. Namun bagi Cristiano Ronaldo, bab terakhir kariernya di Piala Dunia ditulis oleh satu pemain yang hanya membutuhkan enam menit di lapangan.

Mikel Merino keluar dari bangku cadangan dan mencetak gol dramatis pada menit ke-91 untuk membawa Spanyol menundukkan Portugal 1-0 pada babak 16 besar Piala Dunia FIFA 2026 di Dallas Stadium, Selasa 7Juli 2026. Gol tersebut memastikan La Roja melangkah ke perempat final sekaligus mengakhiri perjalanan Ronaldo di turnamen terakhirnya bersama tim nasional Portugal.

Ironisnya, sepanjang hampir 90 menit pertandingan, Portugal sebenarnya masih mampu bertahan menghadapi dominasi permainan Spanyol. Namun seperti yang sering diperlihatkan tim asuhan Luis de la Fuente sepanjang turnamen, mereka memiliki satu keunggulan yang membedakan dari tim lain: kedalaman skuad.

Pertandingan ini menjadi bukti bahwa Spanyol tidak hanya bergantung pada sebelas pemain utama.

Ketika Dani Olmo mulai kehilangan tenaga, De la Fuente memasukkan Ferran Torres dan Mikel Merino. Keputusan yang sempat dipertanyakan itu justru menjadi pembeda.

Enam menit setelah masuk lapangan, Merino menerima umpan cerdas Ferran Torres yang lebih dulu memutar badan memanfaatkan operan Rodri. Dengan ketenangan luar biasa, gelandang Arsenal tersebut menunggu posisi Diogo Costa sebelum menyarangkan bola ke sudut kiri bawah gawang.

Gol itu bukan sekadar memastikan kemenangan.

Gol tersebut menjadi penutup kisah Cristiano Ronaldo di panggung Piala Dunia.

Sehari sebelumnya, kapten Portugal itu telah mengumumkan bahwa Piala Dunia 2026 menjadi turnamen terakhirnya bersama Selecao. Ia berharap laga melawan Spanyol bukan pertandingan terakhirnya. Namun takdir berkata lain.

Ronaldo memang sempat memberi ancaman pada babak pertama melalui tendangan voli yang memaksa Unai Simon melakukan penyelamatan penting. Itu menjadi satu-satunya momen ketika Spanyol benar-benar berada dalam tekanan.

Setelah jeda, Portugal seperti kehilangan arah.

Tim asuhan Roberto Martinez gagal melepaskan satu pun tembakan tepat sasaran sepanjang babak kedua. Statistik tersebut memperlihatkan bagaimana Spanyol secara perlahan mengambil alih kendali permainan melalui penguasaan bola dan tekanan tinggi yang membuat Bruno Fernandes maupun Joao Felix kesulitan membangun serangan.

Kunci dominasi Spanyol kembali berada di sektor tengah.

Rodri mengatur tempo permainan dengan tenang, sementara Pedri dan Alex Baena terus membuka ruang di antara lini Portugal. Ketika Lamine Yamal mulai mendapatkan kebebasan setelah Nuno Mendes harus meninggalkan lapangan akibat cedera, sisi kanan pertahanan Portugal semakin sering ditembus.

Meski belum mencetak gol, Yamal tetap menjadi ancaman konstan.

Penyerang muda Barcelona itu memaksa Diogo Costa melakukan dua penyelamatan penting, termasuk saat menepis tendangan bebas yang mengarah ke pojok gawang. Sebelumnya, Costa juga tampil gemilang menggagalkan peluang Oyarzabal dan Baena sehingga Portugal mampu bertahan hingga penghujung laga.

Namun bahkan performa luar biasa sang penjaga gawang tidak cukup menyelamatkan Portugal.

Gol Merino lahir dari kombinasi tiga pemain pengganti dan menjadi gambaran sempurna filosofi De la Fuente. Ketika lawan mulai kelelahan, Spanyol masih mampu memasukkan pemain berkualitas yang levelnya hampir setara dengan starter.

Kedalaman inilah yang kini menjadi kekuatan terbesar La Roja.

Sepanjang turnamen, Spanyol tidak hanya tampil dominan saat menguasai bola, tetapi juga semakin disiplin ketika bertahan.

Laga melawan Portugal menjadi pertandingan keenam beruntun mereka tanpa kebobolan, sebuah rekor baru dalam sejarah Piala Dunia. Bahkan sebelum Ronaldo melepaskan tembakan pada menit ke-12, belum ada tim yang mampu mencatatkan satu tembakan tepat sasaran ke gawang Spanyol pada babak pertama sepanjang turnamen.

Di sisi lain, Portugal harus kembali menghadapi kenyataan pahit.

Mereka kembali gagal menembus perempat final secara beruntun untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia. Lebih menyakitkan lagi, kegagalan tersebut menutup perjalanan salah satu ikon terbesar sepak bola dunia.

Ronaldo meninggalkan Piala Dunia dengan warisan yang sulit ditandingi.

Enam edisi Piala Dunia, 25 kali tampil sebagai starter—terbanyak kedua sepanjang sejarah setelah Lionel Messi—serta 11 gol dan dua assist menjadi bukti konsistensi luar biasa selama lebih dari dua dekade.

Meski tidak pernah mengangkat trofi Piala Dunia, pengaruh Ronaldo terhadap sepak bola Portugal tidak akan pernah pudar. Ia mengubah Portugal dari tim yang sesekali mengejutkan menjadi negara yang selalu diperhitungkan dalam setiap turnamen besar.

Kini tongkat estafet itu harus diteruskan generasi berikutnya.

Sementara itu, Spanyol semakin mengukuhkan status sebagai salah satu kandidat terkuat juara dunia. Mereka belum kebobolan satu gol pun dalam enam pertandingan, memiliki kedalaman skuad yang merata, serta mampu memenangkan pertandingan melalui pemain-pemain yang datang dari bangku cadangan.

Di perempat final, La Roja akan menghadapi pemenang laga Amerika Serikat kontra Belgia. Jika mampu mempertahankan konsistensi permainan seperti saat menghadapi Portugal, bukan tidak mungkin generasi baru Spanyol akan mengikuti jejak tim emas 2010 yang pernah mengangkat trofi Piala Dunia.

Sedangkan di sisi lain lapangan, ketika peluit panjang dibunyikan, Cristiano Ronaldo berjalan meninggalkan lapangan dengan kepala tertunduk. Tidak ada gol perpisahan, tidak ada trofi terakhir. Hanya tepuk tangan panjang yang mengiringi berakhirnya perjalanan seorang legenda yang selama dua dekade lebih menjadi wajah sepak bola Portugal dan salah satu pemain terbesar sepanjang sejarah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....