BPBD Ungkap Tiga Bencana Dominan di Kota Samarinda

  • 02 Jul 2026 10:38 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda mengungkapkan kebakaran, banjir, dan longsor masih menjadi tiga jenis bencana yang paling sering terjadi di Kota Samarinda. Kondisi tersebut menunjukkan upaya mitigasi dan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat perlu terus diperkuat di tengah tingginya potensi bencana yang dihadapi daerah.

Hal tersebut disampaikan Analis Kebencanaan Ahli Muda BPBD Kota Samarinda, Hamzah Umar, saat menjadi narasumber dalam kegiatan Sapa ASN yang diselenggarakan Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Samarinda. Hamzah menjelaskan, berdasarkan Kajian Risiko Bencana Kota Samarinda periode 2022-2026, terdapat tujuh jenis ancaman bencana yang berpotensi terjadi di wilayah Kota Samarinda. Ketujuh potensi bencana tersebut meliputi banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, konflik sosial, serta kegagalan teknologi.

Menurut Hamzah, hasil rekapitulasi kejadian bencana menunjukkan kebakaran menempati posisi tertinggi dengan proporsi mencapai 34 persen. Sementara itu, banjir menyumbang 32 persen dari total kejadian, disusul longsor sebesar 30 persen. Data tersebut menunjukkan bencana hidrometeorologi dan kebakaran masih menjadi tantangan utama yang dihadapi Pemerintah Kota Samarinda.

"Kejadian bencana di Samarinda cukup tinggi. Tiga terbesar adalah kebakaran, banjir, dan longsor yang hampir setiap tahun terus terjadi," ujar Hamzah pada Rabu 1 Juli 2026.

Selain itu, jumlah penduduk Kota Samarinda yang telah mencapai lebih dari 850 ribu jiwa menjadikannya sebagai daerah dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi di Kalimantan Timur. Kondisi tersebut turut meningkatkan potensi kerentanan ketika terjadi bencana, terutama di kawasan permukiman padat dan wilayah dengan kondisi geografis yang berisiko.

Hamzah juga mengungkapkan Kota Samarinda masih tercatat sebagai daerah dengan kejadian longsor tertinggi di Kalimantan Timur. Meski sebagian besar longsor yang terjadi bersifat lokal atau tidak berskala besar, dampaknya tetap dapat menimbulkan kerusakan infrastruktur hingga korban jiwa.

Karena itu, Hamzah menilai upaya mitigasi, edukasi, dan peningkatan kesadaran masyarakat harus terus diperkuat. Ia menegaskan pengurangan risiko bencana tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat.

"Peran masyarakat sangat penting karena data kebencanaan harus diterjemahkan menjadi aksi penyelamatan mandiri di tingkat warga," ujar Hamzah Umar.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....