Konflik Orangutan di Kutim Kian Meresahkan, Warga Minta BKSDA Kaltim Translokasi

  • 27 Jun 2026 10:30 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Kutai Timur - Konflik antara manusia dan orangutan di Desa Tebangan Lembak, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, semakin memanas. Satwa dilindungi tersebut kini hampir setiap hari memasuki kawasan permukiman warga dan merusak berbagai tanaman perkebunan, mulai dari kebun sawit, pisang, hingga tanaman pangan lainnya.

Kondisi ini membuat keresahan warga terus meningkat. Orangutan yang sebelumnya hanya terlihat di sekitar kawasan hutan kini tidak lagi segan masuk ke pekarangan rumah maupun lahan pertanian. Kehadiran mereka dinilai telah mengganggu aktivitas masyarakat karena menyebabkan kerugian ekonomi akibat tanaman yang rusak.

Tokoh masyarakat Desa Tebangan Lembak, Rahmad Purwanto, mengatakan konflik tersebut sudah berlangsung cukup lama dan intensitas kemunculan orangutan terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir.

"Orangutan sekarang hampir setiap hari datang ke kebun dan masuk sampai ke dekat permukiman warga. Mereka memakan buah pisang, merusak tanaman, bahkan masuk ke kebun sawit. Kondisi ini membuat masyarakat semakin resah karena kerusakan yang ditimbulkan terus bertambah," ujar Adi. Sabtu 27 Juni 2026.

Menurutnya, masyarakat memahami bahwa orangutan merupakan satwa yang dilindungi sehingga warga tidak ingin mengambil tindakan yang dapat membahayakan satwa tersebut. Namun, di sisi lain, mereka juga berharap ada langkah nyata dari pemerintah agar konflik tidak terus berulang.

"Warga tidak ingin menyakiti orangutan karena kami tahu satwa ini dilindungi. Tetapi kami juga berharap ada solusi. Jangan sampai masyarakat terus mengalami kerugian setiap hari sementara konflik ini tidak pernah selesai," katanya.

Adi menjelaskan, kerusakan yang ditimbulkan tidak hanya terjadi pada kebun pisang yang menjadi sumber pakan favorit orangutan, tetapi juga pada tanaman lain yang berada di sekitar lahan pertanian warga. Bahkan beberapa orangutan diketahui membuat sarang di kawasan yang semakin dekat dengan permukiman.

Atas kondisi tersebut, masyarakat meminta Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur segera turun tangan melakukan penanganan, termasuk mempertimbangkan pemindahan orangutan ke habitat yang lebih aman dan jauh dari permukiman.

"Kami berharap BKSDA segera melakukan tindakan. Kalau memang memungkinkan, orangutan dipindahkan ke habitat yang lebih sesuai sehingga keselamatan satwa tetap terjaga, tetapi masyarakat juga bisa beraktivitas dan berkebun dengan tenang," ujarnya.

Warga berharap penanganan dilakukan secepat mungkin agar konflik manusia dan satwa liar tidak semakin meluas. Selain menghindari kerugian ekonomi masyarakat, langkah tersebut juga dinilai penting untuk menjaga keselamatan orangutan sebagai satwa yang dilindungi sekaligus mencegah potensi konflik yang lebih besar di kemudian hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....