Budayawan Kaltim: Samarinda Kota Beradab Tak Cukup Dibangun dengan Proyek Fisik
- 07 Jun 2026 16:30 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Budayawan Kalimantan Timur, Syafruddin Pernyata, mengingatkan bahwa mewujudkan Samarinda sebagai kota yang beradab tidak cukup hanya melalui pembangunan fisik. Menurutnya, budaya merawat lingkungan dan menjaga kehidupan sosial masyarakat justru menjadi fondasi utama dalam mewujudkan cita-cita tersebut.
Syafruddin mengatakan, konsep kota yang teduh, rapi, aman, dan nyaman harus diterjemahkan dalam tindakan nyata yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat, mulai dari pemerintah hingga warga. Salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah menjaga ruang hijau dan lingkungan sekitar.
"Kita ingin Samarinda yang teduh, rapi, aman, dan nyaman. Misalnya, kalau ada pohon mati satu, tanam 10. Itu bagian dari cara kita merawat kota," ujarnya, dikutip pada Minggu, 7 Juni 2026.
Selain itu menurut Syafruddin, untuk membangun kota beradab pemerintah juga perlu memperhatikan kondisi di tingkat paling bawah, termasuk kantor-kantor kelurahan yang menjadi wajah pelayanan publik.
Sebab ia menilai, peran lurah tidak hanya sekadar administrator, tetapi juga pemimpin yang harus memberi teladan dalam menata lingkungan.
"Lurah itu bukan hanya manajer, tetapi pemimpin. Dia harus menjadi contoh. Kalau lingkungannya sendiri tidak tertata, bagaimana bisa mengajak masyarakat menjaga lingkungan?" kata dia.
Selain penataan lingkungan, Syafruddin menilai keberagaman masyarakat Samarinda merupakan modal besar yang harus terus dijaga. Ia menyebut kota ini sejak lama dihuni berbagai kelompok etnis yang hidup berdampingan dan membentuk karakter Samarinda hingga saat ini.
Menurutnya, keragaman tersebut bukan persoalan yang harus dipertentangkan, melainkan kekuatan yang perlu dirawat bersama. "Keragaman itu keindahan. Sama seperti taman yang indah karena memiliki banyak warna. Samarinda dibangun oleh banyak suku dan itu yang harus terus dijaga," ucapnya.
Di sisi lain, Syafruddin juga menyoroti pentingnya menghidupkan kembali budaya "bekesah" atau berdiskusi antarwarga untuk menyelesaikan persoalan lingkungan maupun sosial yang muncul di masyarakat. Menurut Syafruddin, ruang-ruang percakapan semacam itu seharusnya diterapkan mulai dari Pemerintah Kota hingga tingkat RT agar masyarakat terbiasa menyampaikan persoalan sekaligus mencari solusi bersama.
"Ciri Samarinda itu bekesah. Kalau ada masalah lingkungan, parit tersumbat atau persoalan lainnya, dibicarakan bersama. Dari situ muncul kepedulian dan rasa memiliki terhadap kota," ujarnya.
Karena itu, menurutnya tidak sulit mewujudkan Samarinda sebagai kota peradaban apabila seluruh pihak memiliki komitmen yang sama. "Kalau membangun gedung tinggi memang perlu biaya besar. Tapi merawat peradaban itu tidak selalu perlu uang. Yang diperlukan adalah kepedulian dan kemauan untuk menjaga kota bersama-sama," kata Syafruddin, mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....