Rendah, APS PAUD Samarinda Jadi Sorotan Bunda Literasi
- 22 Mei 2026 14:51 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda- Rendahnya angka partisipasi pendidikan anak usia dini atau PAUD di Kota Samarinda menjadi perhatian serius Bunda PAUD sekaligus Bunda Literasi Kota Samarinda, Rinda Wahyuni Andi Harun. Di tengah semangat membangun generasi emas menuju 2045, masih banyak anak usia dini di Samarinda yang belum mengenyam pendidikan PAUD sebelum masuk sekolah dasar.
Persoalan tersebut disampaikan Rinda Wahyuni Andi Harun saat menghadiri kegiatan Launching Karya dan Berbagi Praktik Baik Pendidikan dalam rangka Hari Kebangkitan Nasional 2026 di Aula Lantai 4 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Samarinda, Jum'at 22 Mei 2026.
Rinda mengungkapkan Angka Partisipasi Sekolah atau APS anak usia 5 sampai 6 tahun di Samarinda saat ini masih berada di angka 63,17 persen. Angka itu jauh di bawah capaian nasional yang telah mencapai 88,64 persen.
“Kita mendapat garis merah. APS kita untuk anak usia sampai enam tahun sangat rendah sekali hanya 63,17 persen, sementara nasional sudah 88,64 persen,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan Samarinda. Terlebih saat ini masih banyak anak dapat langsung masuk sekolah dasar tanpa melalui pendidikan PAUD maupun taman kanak-kanak.
Padahal, Pemerintah Kota Samarinda sebelumnya telah memiliki Peraturan Wali Kota Nomor 31 Tahun 2021 yang mendorong anak mengikuti pendidikan pra-TK sebelum memasuki jenjang sekolah dasar.
Namun di lapangan, banyak orang tua mulai menganggap pendidikan PAUD tidak lagi menjadi kebutuhan utama karena anak tetap dapat diterima di SD tanpa pengalaman belajar di TK.
“Kalau SD tetap menerima siswa tanpa melalui PAUD, sama saja bohong kita mengajak orang tua menyekolahkan anak-anaknya di TK,” ucapnya.
Rinda menilai pendidikan usia dini memiliki peran penting dalam membentuk karakter, kemandirian, kemampuan sosial, hingga kesiapan mental anak sebelum memasuki pendidikan dasar. Menurutnya, anak yang pernah mengikuti PAUD umumnya lebih siap beradaptasi dibanding anak yang langsung masuk SD.
“Kalau anak yang sudah masuk PAUD atau TK, semangat bersosialisasinya tinggi, kemampuan mandirinya juga luar biasa. Karakter anak memang dibangun sejak dini,” katanya.
Selain rendahnya partisipasi PAUD, Rinda juga menyoroti fenomena pembelajaran calistung atau membaca, menulis dan berhitung secara dini di tingkat TK. Ia menilai kondisi tersebut mulai menggeser esensi pendidikan anak usia dini yang seharusnya menjadi ruang bermain dan pembentukan karakter anak.
“Kalau anak-anak TK sudah diwajibkan calistung, lalu tugas guru SD kelas satu itu apa?” ujarnya.
Menurutnya, anak usia dini membutuhkan ruang tumbuh yang sehat melalui bermain, belajar bersosialisasi, membangun rasa percaya diri dan mengembangkan imajinasi, bukan semata mengejar kemampuan akademik sejak awal.
Ia juga mengaku khawatir banyak lembaga PAUD dan TK swasta terancam kehilangan murid apabila tidak ada penguatan regulasi dan dukungan bersama dari pemerintah maupun masyarakat.
Karena itu, Rinda mendorong adanya duduk bersama antara pemerintah daerah, bidang PAUD dan pendidikan dasar untuk memperkuat implementasi kebijakan pendidikan usia dini di Samarinda.
“Mari kita bangkitkan semangat orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya di TK agar siap menuju jenjang berikutnya,” katanya.
Momentum Hari Kebangkitan Nasional tahun ini pun dimanfaatkan untuk mengingatkan pentingnya membangun kualitas sumber daya manusia sejak usia dini. Sebab menurut Rinda, kebangkitan pendidikan tidak hanya bicara fasilitas dan kurikulum, tetapi juga bagaimana memastikan setiap anak mendapat pondasi karakter dan pendidikan yang baik sejak awal kehidupannya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....