Tradisi “Sobat” Derawan, Sekali Tarik Bisa 500 Kilogram Tuna

  • 15 Mei 2026 08:07 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Berau – Wakil Bupati Berau, Gamalis, turun langsung mengikuti aktivitas nelayan tradisional di kawasan Gusung Sanggalau, Pulau Derawan, Selasa 13 Mei 2026. Bersama masyarakat pesisir setempat, ia ikut memukat ikan tuna atau yang dikenal masyarakat Bajau dengan sebutan “sobat”.

Kegiatan melaut tersebut dimulai sejak pukul 16.00 Wita hingga menjelang malam sekitar pukul 19.30 Wita. Para nelayan menebar jaring mengelilingi gusung pasir di perairan dangkal, kemudian menunggu kawanan ikan masuk sebelum pukat ditarik bersama-sama menuju bibir pantai.

Suasana gotong royong terlihat saat para nelayan bahu membahu menarik jaring dari laut dangkal. Aktivitas itu menjadi pemandangan khas masyarakat pesisir Derawan yang masih mempertahankan cara menangkap ikan secara tradisional.

Hasil tangkapan yang diperoleh berupa ikan tuna segar dengan jumlah cukup banyak. Salah seorang nelayan Amsa menyebut hasil tangkapan dalam sekali memukat dapat mencapai ratusan kilogram, meski tidak selalu diperoleh setiap kali turun melaut.

“Biasanya seminggu dua kali turun memukat, kadang juga tidak dapat. Kalau lagi banyak, bisa sampai 500 kilogram,” ujarnya.

Ikan “sobat” hasil tangkapan nelayan dijual sekitar Rp25 ribu per kilogram dan menjadi salah satu sumber penghasilan utama masyarakat pesisir Derawan. Aktivitas memukat juga menjadi bagian dari tradisi melaut masyarakat Bajau yang diwariskan secara turun-temurun.

Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengatakan tradisi memukat ikan secara tradisional memiliki nilai ekonomi sekaligus potensi wisata budaya yang dapat dikembangkan di kawasan kepulauan Berau.

Menurutnya, pengalaman melihat langsung proses penangkapan ikan di tengah panorama laut dan hamparan pasir putih Derawan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

“Tradisi seperti ini harus dijaga, karena selain menjadi mata pencaharian masyarakat, juga bisa menjadi atraksi wisata yang memperlihatkan kehidupan asli masyarakat pesisir Derawan. Biasanya mulai Maret sampai Oktober,” katanya.

Ia menilai sektor perikanan dan pariwisata di kawasan kepulauan Berau dapat berjalan beriringan. Kehidupan nelayan, budaya masyarakat Bajau, hingga aktivitas melaut dinilai mampu memperkuat identitas wisata Derawan yang selama ini dikenal dengan keindahan bawah lautnya.

Selain wisata alam, wisata budaya berbasis kehidupan masyarakat pesisir dinilai menjadi potensi yang dapat menarik minat wisatawan untuk tinggal lebih lama di kawasan Derawan.

Gamalis juga berharap keberlanjutan ekosistem laut tetap terjaga agar hasil tangkapan nelayan tetap stabil dan potensi wisata bahari di Kabupaten Berau dapat terus berkembang.

Ia menegaskan pelestarian lingkungan laut menjadi faktor penting agar kehidupan masyarakat pesisir dan sektor pariwisata dapat tumbuh secara berkelanjutan di masa mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....