Rekrutmen Dinilai Diskriminatif, Perempuan Mahardhika Samarinda Angkat Suara
- 01 Mei 2026 13:02 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Aksi Perempuan Mahardhika Kota Samarinda di depan Kantor Dinas Tenaga Kerja turut menyoroti persoalan diskriminasi dalam dunia kerja. Isu ini dianggap menjadi hambatan besar bagi perempuan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, aman, dan bermartabat. Mereka menilai hingga saat ini kesetaraan di dunia kerja masih belum sepenuhnya terwujud.
Dalam orasinya, massa menyampaikan proses rekrutmen tenaga kerja masih sarat dengan praktik diskriminatif. Banyak perempuan disaring bukan berdasarkan kompetensi atau kemampuan, melainkan faktor non-teknis seperti usia, status perkawinan, hingga penampilan fisik. Kondisi ini dinilai mencerminkan masih kuatnya bias gender dalam dunia kerja.
Anggota Perempuan Mahardhika, Disya Halid, menegaskan situasi tersebut menunjukkan sistem kerja yang belum adil dan inklusif. Ia menyebut perempuan masih kerap dipandang sebagai tenaga kerja kelas dua yang mudah digaji murah dan tidak memiliki posisi tawar yang kuat.
“Perempuan masih kerap disaring berdasarkan usia, status perkawinan, bahkan ditanya soal rencana memiliki anak,” katanya. Menurutnya, pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak relevan dengan kapasitas kerja dan justru menjadi bentuk diskriminasi yang merugikan perempuan.
Disya menambahkan, praktik tersebut tidak hanya merugikan secara individu, tetapi juga mempersempit peluang perempuan untuk berkembang secara profesional. "Hal ini pada akhirnya berdampak pada rendahnya partisipasi perempuan di sektor formal yang berkualitas," ucapnya pada Jumat 1 Mei 2026.
Kelompok rentan seperti penyandang disabilitas, ibu tunggal, dan korban kekerasan juga dinilai semakin tersisih dalam persaingan kerja. Mereka menghadapi tantangan berlapis, mulai dari stigma sosial hingga minimnya kebijakan yang berpihak pada kelompok tersebut.
Selain itu, Perempuan Mahardhika menilai dunia kerja masih bersifat eksploitatif terhadap perempuan. Upah rendah, beban kerja tinggi, serta status kerja yang tidak pasti seperti kontrak jangka pendek menjadi persoalan yang terus berulang tanpa solusi yang jelas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....