Hari Bumi Momentum Aksi Nyata Selamatkan Lingkungan Hidup

  • 21 Apr 2026 13:52 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Ketua sekaligus Direktur Eksekutif Yayasan Biosfer Manusia (Bioma) Kalimantan Timur, Akhmad Wijaya, menilai kondisi bumi saat ini tidak dalam keadaan baik, sehingga peringatan Hari Bumi 22 April 2026 harus dimaknai sebagai momentum meningkatkan kesadaran perlindungan lingkungan.

Akhmad Wijaya diketahui aktif memimpin LSM Bioma Foundation yang berfokus pada pelestarian hutan, lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat di Kalimantan Timur. Peran tersebut dinilai relevan dalam mendorong kesadaran kolektif menghadapi krisis iklim yang semakin nyata.

Menurut Akhmad Wijaya, Hari Bumi bukan sekadar peringatan seremonial tahunan, melainkan pengingat bagi masyarakat untuk mengambil peran aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan, khususnya di daerah dengan tutupan hutan yang masih signifikan seperti Kaltim.

“Hari Bumi menjadi pengingat sekaligus momentum untuk meningkatkan kesadaran terhadap perlindungan lingkungan dan melawan krisis iklim,” katanya. Selasa, 21 April 2026.

Akhmad Wijaya menjelaskan, upaya menjaga bumi tidak cukup hanya melalui aksi simbolik seperti menanam pohon, tetapi juga harus diiringi dengan perlindungan terhadap hutan yang masih tersisa.

“Fokus utama dari ekonomi hijau adalah bagaimana kita hidup berkelanjutan, mengurangi jejak karbon, serta melindungi alam untuk generasi yang akan datang,” ucapnya.

Ketua sekaligus Direktur Eksekutif Yayasan Biosfer Manusia (Bioma) Kalimantan Timur, Akhmad Wijaya (Foto: RRI/ Wijaya).

Akhmad mengingatkan, kelestarian lingkungan saat ini menjadi penentu kualitas hidup generasi mendatang. Ia mencontohkan, jika tidak dijaga, keanekaragaman hayati khas Kalimantan seperti pesut dan orangutan berpotensi hanya dapat dilihat melalui dokumentasi di masa depan.

Karena itu, ia menekankan pentingnya aksi nyata dalam momentum Hari Bumi. Menurutnya, upaya penyelamatan lingkungan harus dilakukan secara kolektif dengan menjaga yang masih ada serta memperbaiki kerusakan yang telah terjadi.

“Kita tidak akan menyelamatkan bumi hanya dengan berdiam diri. Harus ada tindakan nyata untuk melindungi dan memperbaiki lingkungan,” ujarnya.

Selain itu, Hari Bumi juga dinilai sebagai ruang refleksi bahwa kerusakan lingkungan akan berdampak langsung kepada manusia tanpa memandang latar belakang sosial.

Lebih lanjut, Akhmad Wijaya mengingatkan agar peringatan Hari Bumi tidak hanya dimaknai sebagai tren atau sekadar kampanye di media sosial, melainkan perubahan nyata dalam gaya hidup berkelanjutan.

“Jangan melihat Hari Bumi hanya sebagai peringatan tahunan atau sekadar tagar, tetapi bagaimana kita mengubah gaya hidup menjadi lebih berkelanjutan,” ucapnya.

Namun demikian, Akhmad Wijaya mengakui implementasi gaya hidup ramah lingkungan di Kalimantan Timur masih menghadapi tantangan, terutama karena ketergantungan terhadap sektor sumber daya alam yang tidak terbarukan.

Akhmad berharap, momentum Hari Bumi dapat mendorong kesadaran kolektif untuk beralih pada pola pembangunan yang lebih berkelanjutan demi menjaga kelestarian lingkungan di masa depan.

google-preference
Audio
Putar Audio

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....