Petani Kecamatan Sambutan Samarinda Khawatir Kekurangan Air Irigasi

  • 18 Apr 2026 09:19 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Petani di Kecamatan Sambutan, Kota Samarinda, mulai mengkhawatirkan ketersediaan air irigasi menjelang masa tanam akibat menurunnya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir.

Petani di Kelurahan Makroman, Mangin, mengatakan kondisi debit air saat ini tidak lagi stabil seperti sebelumnya. Ia menyebut aliran air yang biasanya lancar kini mulai berkurang, sehingga berpotensi mengganggu aktivitas pertanian.

“Kalau di lapangan, kami merasa kekurangan air. Dulu alirannya lancar, sekarang debitnya mulai menurun,” katanya. Sabtu, 18 April 2026. Kepada rri.co.id.

Mangin menjelaskan, sumber air utama persawahan di wilayahnya berasal dari eks tambang atau danau yang belum dinormalisasi dalam dua tahun terakhir. Ia berharap pemerintah dapat segera melakukan normalisasi saluran air agar distribusi air kembali lancar.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi kekhawatiran tersendiri bagi petani, terutama menjelang masa tanam yang akan segera dimulai. Ia menilai keterbatasan air dapat berdampak pada risiko gagal panen jika tidak segera diatasi.

“Harapannya ada normalisasi parit, supaya air bisa lancar ke sawah. Kalau tidak, kami khawatir saat masa tanam nanti air tidak mencukupi,” ucapnya.

Mangin menambahkan, jika belum ada bantuan dari pemerintah, petani berencana melakukan gotong royong untuk membersihkan saluran irigasi. Langkah tersebut dilakukan agar aliran air tetap dapat menjangkau area persawahan.

Sementara itu, Penyuluh Pertanian Kota Samarinda, Ratna Diana, mengatakan luas areal persawahan di Kecamatan Sambutan mencapai sekitar 420 hektare dan sebagian besar telah memasuki masa panen pada Februari lalu.

Ia menjelaskan, penurunan curah hujan saat ini mulai berdampak pada ketersediaan air. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, pihaknya mengimbau petani mempercepat masa tanam, mulai dari penyemaian hingga penanaman.

“Petani kami arahkan untuk mempercepat tanam dan melakukan pengendalian hama sejak pratanam, terutama tikus, agar produksi tetap terjaga,” katanya.

Di sisi lain, Dosen dan Peneliti Universitas Mulawarman Samarinda, Prof. Suyadi, menilai persoalan utama pertanian padi di Kalimantan Timur masih berkaitan dengan sistem irigasi yang belum optimal.

Ia mengatakan, ketergantungan pada sistem tadah hujan membuat petani rentan terhadap perubahan cuaca. Dalam kondisi tanpa hujan selama dua minggu, petani sudah kesulitan mengolah lahan karena keterbatasan air.

Menurutnya, sistem irigasi tidak hanya berfungsi menyediakan air, tetapi juga harus mampu mengatur pembuangan air agar tidak terjadi banjir saat curah hujan tinggi.

“Irigasi ini sangat menentukan. Kalau hanya mengandalkan hujan, risikonya besar bagi petani,” katanya, mengakhiri.

google-preference
Audio
Putar Audio

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....