RSUD IA Moeis Mengklarifikasi Soal Dugaan Penolakan Pasien
- 26 Mar 2026 07:10 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Dugaan penolakan korban kecelakaan lalu lintas di RSUD IA Moeis Samarinda menjadi sorotan publik. Menyikapi hal tersebut, Dinas Kesehatan Kota Samarinda mempertemukan pihak rumah sakit dengan relawan dalam forum klarifikasi, Rabu 25 Maret 2026 siang.
Kasus ini bermula dari peristiwa kecelakaan lalu lintas yang terjadi pada Selasa 24 Maret 2026 sore di KM 15 Loa Janan. Seorang korban dengan cedera kaki cukup parah dievakuasi menggunakan mobil double cabin menuju Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD IA Moeis.
Namun, setibanya di IGD, korban tidak segera mendapatkan penanganan medis. Kondisi tersebut membuat relawan memutuskan membawa korban ke RS Hermina agar segera memperoleh perawatan.
Peristiwa ini pun memicu kekecewaan relawan. Pada Selasa malam, sejumlah relawan mendatangi IGD RSUD IA Moeis untuk meminta penjelasan. Namun, mereka hanya dapat bertemu dengan petugas keamanan yang berjaga.
Situasi tersebut kemudian menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Dinas Kesehatan Kota Samarinda langsung memfasilitasi pertemuan guna meluruskan informasi sekaligus mencari solusi agar kejadian serupa tidak terulang.
Dalam forum tersebut, Direktur RSUD IA Moeis, dr. Osa Rafshodia, secara terbuka menyampaikan permohonan maaf dan klarifikasi atas insiden yang terjadi.
“Sudah ada klarifikasi dan sudah clear terkait pemberitaan dalam dua hari terakhir terkait penolakan layanan laka di RSUD IA Moeis Samarinda,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tidak ada unsur penolakan pasien, namun mengakui adanya kelalaian dalam pelayanan di lapangan yang menyebabkan korban tidak segera tertangani.
“Jadi kami pastikan tadi bahwa tidak ada penolakan dan tindak lanjut terkait upaya untuk mencegah agar tidak terjadi lagi,” katanya.
Sebagai bentuk tanggung jawab, manajemen RSUD IA Moeis telah menjatuhkan sanksi disiplin kepada 19 petugas yang bertugas saat kejadian berlangsung. Sanksi tersebut berupa penundaan jasa pelayanan medis selama tiga bulan serta penundaan kenaikan pangkat.
Direktur RSUD IA Moeis juga mengakui bahwa pelayanan saat itu belum maksimal dan dinilai kurang humanis. Hal tersebut menjadi bahan evaluasi penting bagi pihak rumah sakit untuk melakukan pembenahan.
“Tadi sudah saya jelaskan bahwa kita komitmen untuk membenahi. Jadi ya pasti penegakan disiplin akan dibuat,” ucapnya.
Lebih lanjut, ia menanggapi isu yang beredar di kalangan relawan terkait dugaan penolakan pasien kecelakaan. Ia memastikan informasi tersebut tidak benar dan telah diklarifikasi secara langsung dalam pertemuan tersebut.
“Silakan, kita tidak berharap ada musibah kecelakaan, tapi bila ada kecelakaan silakan dikirim ke RS,” ujarnya.
Pertemuan ini diharapkan menjadi titik balik peningkatan pelayanan kesehatan, khususnya dalam penanganan kasus darurat di Samarinda, serta memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap fasilitas kesehatan pemerintah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....