Rukyatul Hilal IKN Libatkan Ormas dan BMKG Pantau Bulan

  • 19 Mar 2026 10:01 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Kantor Kementerian Agama Kalimantan Timur memastikan pelaksanaan rukyatul hilal akan dipusatkan di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) dengan melibatkan berbagai pihak untuk mendukung akurasi pengamatan. Kepala Kantor Kementerian Agama Kaltim, Abdul Khaliq, mengatakan rukyatul hilal akan dilaksanakan di Masjid Negara IKN, kemudian dilanjutkan pemantauan di Tower ASN 1 Blok D bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). “Rukyatul hilal akan dilaksanakan di Masjid Negara IKN, setelah itu dilanjutkan di Tower ASN 1 Blok D bersama BMKG untuk melihat kemungkinan terlihatnya hilal secara langsung,” ujarnya. Pada rri.co.id, Kamis, 19 Maret 2026.

Ia menjelaskan, kegiatan tersebut akan dihadiri organisasi Islam seperti Majelis Ulama Indonesia, dan Nahdlatul Ulama. Selain itu, turut hadir tokoh masyarakat, tokoh agama, serta Kepala Otorita IKN beserta jajarannya.

Menurutnya, masyarakat juga diberikan kesempatan untuk menyaksikan langsung proses rukyatul hilal di Masjid IKN. Sementara itu, pelaksanaan rukyatul hilal juga dilakukan serentak di seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Timur.

“Pemantauan ini bertujuan menunjukkan kepada masyarakat bahwa penentuan akhir Ramadan dilakukan melalui proses yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan,” ucapnya.

Dalam pelaksanaannya, Kemenag Kaltim masih menggunakan peralatan milik BMKG, khususnya dari Balikpapan sebagai lokasi terdekat dengan IKN. Peralatan tersebut berupa teropong digital yang terhubung dengan sistem pemantauan langsung untuk mengukur ketinggian hilal secara akurat.

Abdul Khaliq menambahkan, secara nasional penentuan hilal mengacu pada kesepakatan Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), yakni ketinggian hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. “Jika di bawah 3 derajat, hilal tidak dapat terlihat, bahkan dengan alat bantu,” katanya.

Flayer Dialog RRI (Foto: RRI/ Andriani).

Ia mengakui, wilayah Kalimantan Timur memiliki tantangan tersendiri dalam pengamatan hilal karena faktor geografis. Posisi wilayah yang berada di bagian timur Indonesia membuat peluang melihat hilal lebih kecil dibandingkan wilayah barat seperti Aceh.

Selain itu, keterbatasan bangunan tinggi juga menjadi kendala di lapangan. Oleh karena itu, tim pengamat terus berupaya mencari lokasi strategis agar hasil pengamatan lebih optimal.

Ia menyebutkan, jumlah undangan yang hadir dalam kegiatan tersebut diperkirakan sekitar 50 orang, dengan antusiasme masyarakat yang cukup tinggi.

Hasil pemantauan dari daerah nantinya akan dikirimkan ke pusat di Jakarta untuk menjadi bahan sidang isbat. Penentuan awal Syawal sepenuhnya menjadi kewenangan Menteri Agama setelah mempertimbangkan laporan dari seluruh wilayah serta masukan dari organisasi dan tokoh agama.

“Waktu paling efektif untuk melakukan pengamatan hilal adalah saat matahari terbenam, ketika posisi bulan memungkinkan untuk diamati di ufuk barat,” ujarnya.

Ilustrasi pemantauan hilal di IKN (Foto: RRI/Generated AI).
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....