Pengelolaan Irigasi Kunci Antisipasi Kemarau di Kaltim

  • 06 Mar 2026 16:30 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Kalimantan Timur menilai potensi kekeringan pada musim kemarau 2026 masih dapat diantisipasi dengan pengelolaan air yang tepat. Kunci utamanya adalah optimalisasi sistem irigasi agar ketersediaan air tetap mampu mendukung aktivitas pertanian masyarakat.

Kepala DPTPH Kaltim Fahmi Himawan mengatakan secara potensi wilayah Kalimantan Timur sebenarnya tidak mengalami kekurangan sumber air. Hal ini karena keberadaan Sungai Mahakam yang membentang dari wilayah hulu hingga hilir dan menjadi sumber air alami bagi banyak daerah di provinsi tersebut.

“Secara potensi kita tidak kekurangan air. Sungai Mahakam itu membentang dari Mahakam Ulu, Kutai Barat, Kutai Kartanegara sampai Samarinda. Airnya selalu ada,” ujar Fahmi kepada rri.co.id Jum'at 6 Maret 2026.

Ia menjelaskan persoalan yang sering muncul bukan pada ketersediaan air, melainkan bagaimana pengelolaannya agar dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kebutuhan pertanian. Tanpa pengelolaan yang baik, air berpotensi langsung mengalir ke laut tanpa memberi manfaat maksimal bagi lahan pertanian.

“Yang menjadi PR kita adalah bagaimana menahan air itu agar tidak langsung lari ke laut sehingga bisa dimanfaatkan untuk sawah,” katanya.

Menurutnya, penguatan sistem irigasi menjadi langkah penting agar petani tetap dapat menjaga produktivitas tanaman meskipun memasuki musim kemarau. Melalui jaringan irigasi yang baik, air dari sungai maupun sumber lainnya dapat dialirkan dan ditampung untuk kebutuhan lahan pertanian.

Upaya tersebut juga dilakukan melalui koordinasi lintas sektor. DPTPH Kaltim bekerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum bidang Sumber Daya Air serta Balai Wilayah Sungai (BWS) IV dan BWS V yang memiliki kewenangan dalam pembangunan bendungan maupun jaringan irigasi.

Kerja sama ini bertujuan memastikan infrastruktur air mampu mendukung ketahanan pangan daerah. Selain itu, pengelolaan air yang baik juga dinilai penting untuk menjaga stabilitas produksi padi dan komoditas pangan lainnya di tengah perubahan pola iklim.

Langkah antisipatif tersebut sejalan dengan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika yang memperkirakan sebagian wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau lebih awal pada 2026. Namun untuk wilayah Kalimantan Timur, pola kemarau diperkirakan masih berada dalam kondisi normal.

Ketua Tim Data dan Informasi Stasiun Meteorologi SAMS Sepinggan Balikpapan Carolina Meylita menjelaskan awal musim kemarau di Kalimantan Timur umumnya terjadi pada periode Juli hingga Agustus, dengan puncak musim kemarau pada Agustus.

“Untuk Kalimantan Timur masih dalam kategori normal sesuai pola klimatologi selama sekitar 30 tahun terakhir,” ucapnya.

Dengan kondisi tersebut, pemerintah daerah menilai langkah antisipasi sejak dini tetap penting dilakukan. Melalui penguatan sistem irigasi dan pengelolaan sumber air yang baik, diharapkan sektor pertanian di Kalimantan Timur tetap produktif serta mampu menjaga ketahanan pangan masyarakat meskipun memasuki musim kemarau.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....