Antrian Pembuatan Rumah Kayu Ulin Samarinda Capai Satu Tahun
- 02 Mar 2026 14:03 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Usaha pembuatan rumah kayu berbahan ulin di Kota Samarinda menunjukkan permintaan pasar yang masih tinggi di tengah tren bangunan modern berbahan beton. Salah satu pelaku usaha, JBRU Grup Samarinda, mencatat daftar tunggu pembuatan rumah kayu bisa mencapai sekitar satu tahun.
Pemilik JBRU Grup Samarinda, Haji Muhammad Syaufi, mengatakan usaha pembuatan rumah kayu ulin tetap diminati masyarakat meskipun saat ini banyak pilihan rumah bergaya estetik modern. Menurutnya, rumah kayu khas Kalimantan masih memiliki nilai budaya dan daya tarik tersendiri di tengah perkembangan arsitektur perkotaan.
Ia menjelaskan, dalam satu bulan pihaknya menargetkan pengerjaan sekitar dua unit rumah tipe kecil dengan ukuran 36 hingga 48 meter persegi. Namun, waktu pengerjaan sangat bergantung pada ukuran bangunan, kondisi lapangan, hingga faktor cuaca.
“Untuk rumah tipe kecil bisa selesai sekitar 17 hari, tetapi untuk bangunan yang lebih besar bisa mencapai sekitar satu bulan atau lebih, tergantung permintaan konsumen,” katanya saat diwawancarai rri.co.id di Samarinda, Senin 2 Maret 2026.
Syaufi menambahkan, mayoritas konsumen mempercayakan desain rumah kepada pihaknya. Sekitar 90 persen pelanggan menyerahkan konsep bangunan secara penuh, sementara sisanya memberikan permintaan khusus sesuai kebutuhan.
Harga pembuatan rumah kayu ulin bervariasi sesuai tipe dan kondisi lahan. Untuk tipe 36 atau ukuran 6x6 meter, biaya diperkirakan mulai sekitar Rp130 juta, belum termasuk kebutuhan tambahan seperti fondasi khusus pada lahan rawa atau kondisi tanah tertentu.
Saat ini usaha tersebut mempekerjakan sekitar tujuh orang pekerja per grup dengan total tiga kelompok kerja yang tersebar di beberapa wilayah Samarinda, seperti di kawasan Sempaja Utara Samarinda dan beberapa lokasi lain. Sistem antrean diterapkan untuk menjaga kualitas dan ketelitian pengerjaan.
Syaufi berharap para pelaku usaha, khususnya di bidang perkayuan, tetap bersemangat mengembangkan inovasi dan saling berbagi pengalaman. Ia menilai rumah kayu tetap memiliki peluang pasar, terutama sebagai identitas arsitektur lokal Kalimantan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....