Dinsos Kaltim: Pemenuhan Logistik Jadi Prioritas Penanganan Bencana

  • 24 Feb 2026 14:15 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Penggerak swadaya masyarakat ahli pertama bidang penanganan bencana Dinas Sosial Kalimantan Timur, Arif Maulana, menegaskan tugas utama Dinas Sosial dalam penanganan bencana berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar penyintas. Hal itu disampaikannya dalam program dialog interaktif Halo Kaltim Pro1 Samarinda.

“Sesuai Peraturan Menteri Sosial Nomor 9 Tahun 2018, kami mempunyai tugas dan tanggung jawab pokok terkait pemenuhan kebutuhan dasar bagi korban bencana,” ucap Arif Maulana, dikutip Selasa 24 Februari 2026.

Ia menjelaskan, langkah mitigasi yang dilakukan antara lain memastikan ketersediaan buffer stock (baper stok) di gudang logistik kabupaten/kota. Upaya ini dilakukan agar saat bencana terjadi, distribusi bantuan tidak terkendala ketersediaan barang.

“Di awal tahun kami sudah bersurat ke Dinas Sosial kabupaten/kota agar memastikan ketersediaan logistik di gudang mereka,” kata Arif.

Namun demikian, Arif mengakui tidak semua daerah memiliki gudang logistik permanen. Beberapa wilayah seperti Kutai Barat dan Mahakam Ulu masih menghadapi keterbatasan sarana. Hal ini penting agar stok bantuan tidak justru terdampak saat banjir atau kejadian darurat lainnya.

“Kita berharap ke depan ada bangunan khusus untuk gudang logistik dan lokasinya aman dari potensi bencana,” ujarnya.

Dari sisi sumber daya manusia, Dinas Sosial juga membina Taruna Siaga Bencana atau Tagana sebagai relawan sosial kebencanaan. Ia menambahkan Tagana merupakan relawan murni yang tidak digaji, namun tetap mendapatkan pembinaan dan pelatihan rutin. “Dari 920 Tagana yang terdaftar di 10 kabupaten/kota, yang aktif saat ini 404 orang,” ujar Arif.

Evaluasi keaktifan relawan dilakukan setiap tahun dan dilaporkan ke Kementerian Sosial. Pelatihan yang diberikan mencakup manajemen dapur umum, pendirian tenda pengungsian, hingga layanan dukungan psikososial bagi korban bencana. “Kami terus melakukan evaluasi dan pendataan keaktifan teman-teman di lapangan,” kata Arif.

Selain Tagana, Dinas Sosial juga mendorong pembentukan Kampung Siaga Bencana (KSB) di wilayah rawan. Saat ini telah terbentuk 14 KSB di beberapa kabupaten/kota di Kalimantan Timur. “KSB ini menjadi garda terdepan di lingkungan masyarakat dalam melakukan penanganan awal saat terjadi bencana,” ujar Arif.

KSB tidak hanya melibatkan relawan Tagana, tetapi juga masyarakat setempat. Konsep ini penting terutama di daerah terpencil yang sulit dijangkau saat kondisi darurat. Mereka bertugas melakukan pendataan awal, membantu evakuasi, hingga mengelola kebutuhan dasar sementara.

“Saat terjadi bencana ada golden time atau waktu emas penanganan awal. Di situ peran KSB sangat penting,” ucap Arif.

Ke depan, pembentukan KSB akan diprioritaskan di desa-desa dengan tingkat kerawanan tinggi. Dengan sinergi antara gudang logistik yang memadai, relawan Tagana yang aktif, serta KSB yang kuat di tingkat desa, diharapkan sistem penanganan bencana di Kalimantan Timur semakin responsif dan tangguh.

Antisipasi kebencanaan bukan hanya soal respons cepat, tetapi juga kesiapan infrastruktur, logistik, dan kapasitas masyarakat. Kolaborasi antara pemerintah daerah, relawan, dan warga menjadi fondasi utama dalam melindungi masyarakat dari dampak bencana yang tidak dapat diprediksi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....