Klarifikasi Pemkot Samarinda terkait Penyebab Air PDAM Keruh
- 16 Feb 2026 11:31 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Pemerintah Kota Samarinda memberikan klarifikasi terkait keluhan masyarakat mengenai kondisi air keruh yang sempat terjadi di sejumlah wilayah dalam beberapa waktu terakhir. Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menegaskan kondisi tersebut bersifat teknis dan tidak berlangsung dalam waktu lama, serta merupakan bagian dari proses pemeliharaan jaringan distribusi air bersih.
Menurutnya, karakteristik sumber air baku di Samarinda berbeda dengan daerah lain, khususnya di Pulau Jawa. Sumber air yang berasal dari Sungai Karang Mumus dan aliran sekitarnya memiliki tingkat sedimentasi lebih tinggi sehingga pipa distribusi lebih rentan mengalami endapan ketika dilakukan pengurasan atau pembersihan instalasi.
Andi menjelaskan, proses pemeliharaan jaringan merupakan prosedur rutin untuk menjaga kualitas air tetap layak digunakan masyarakat. Namun dalam kondisi tertentu, pembersihan jaringan dapat menyebabkan air sementara tampak keruh pada sebagian kecil sambungan rumah tangga.
“Saya mohon teman-teman bantu, jangan terlalu mendramatisir. Pemerintah dan PDAM tidak pernah mengakui pekerjaan ini sempurna,” ujarnya pada Minggu, 15 Februari 2026. Ia menambahkan gangguan yang muncul biasanya hanya bersifat sementara dan langsung ditangani oleh petugas teknis di lapangan.
Wali Kota menegaskan dampak pengurasan jaringan umumnya hanya dirasakan oleh satu atau dua rumah pelanggan yang berada di jalur distribusi tertentu. Kondisi tersebut, menurutnya, tidak dapat dijadikan gambaran umum terhadap keseluruhan pelayanan air bersih di Kota Samarinda yang terus berjalan setiap hari.
Andi Harun juga meminta masyarakat tetap aktif melaporkan apabila menemukan gangguan distribusi maupun perubahan kualitas air. Pemerintah bersama PDAM memastikan setiap laporan akan ditindaklanjuti melalui mekanisme respons cepat guna meminimalkan dampak yang dirasakan pelanggan.
Menurutnya, banyak petugas PDAM bekerja hampir tanpa henti untuk memastikan suplai air tetap tersedia bagi masyarakat. Para pekerja tersebut menjalankan pengawasan jaringan selama 24 jam, termasuk saat malam hari ketika masyarakat beristirahat, demi menjaga stabilitas layanan.
Andi Harun menjelaskan setelah proses pembersihan jaringan selesai, kualitas air umumnya kembali normal dalam waktu dua hingga tiga hari sesuai hasil pemantauan teknis di lapangan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....