Ketua RT Garda Terdepan dalam Mitigasi Bencana

  • 03 Feb 2026 14:42 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Peran ketua RT sebagai garda terdepan dalam mitigasi bencana ditunjukkan oleh Budi. Ketua RT 17 Kelurahan Sengkotek itu, aktif membangun kesiapsiagaan warga menghadapi potensi kebakaran dan bencana lainnya.

Budi mengatakan, kesadaran warga RT 17 Sengkotek terhadap ancaman bencana tergolong tinggi. Hal ini tidak terlepas dari pengalaman kebakaran besar yang pernah terjadi pada tahun 2008. “Karena di wilayah kami pernah terjadi kebakaran, warga jadi lebih waspada dibandingkan wilayah lain,” ujar Budi saat dialog bersama RRI, dikutip Selasa 3 Februari 2026.

Menurutnya, sistem kewaspadaan dan respons warga masih berjalan efektif hingga saat ini. Meski belum menggunakan teknologi canggih, warga tetap mengandalkan komunikasi cepat dan kepedulian bersama saat menerima peringatan dini atau arahan dari kelurahan.

Terkait ketersediaan alat pemadam api ringan (APAR), Budi menjelaskan distribusinya dilakukan secara bertahap dan difokuskan pada titik-titik yang dinilai paling rawan. “Untuk sementara APAR kami tempatkan di empat titik saja, seperti warung, bengkel, dan usaha laundry yang aktivitas apinya cukup tinggi,” ucapnya.

Ia menambahkan, lingkungan RT 17 pada dasarnya merupakan kawasan padat penduduk. Namun, prioritas penempatan APAR diberikan pada lokasi-lokasi yang setiap hari menggunakan kompor atau peralatan berisiko memicu kebakaran. “Kalau rumah memang rapat semua, tapi yang kita siapkan itu yang betul-betul rawan,” katanya.

Selain APAR, Budi juga mengapresiasi dukungan pemerintah kota melalui program Probebaya yang memungkinkan warga memiliki perahu penanggulangan bencana. “Atas nama warga, kami sangat berterima kasih kepada Bapak Wali Kota. Kami bisa membuat perahu untuk penanggulangan bencana, terutama di wilayah bantaran sungai,” ujar Budi.

Meski perahu tersebut belum dilengkapi mesin, Budi menilai keberadaannya tetap sangat membantu. Dengan memanfaatkan arus air Sungai Mahakam, perahu tersebut bisa digunakan untuk menjangkau lokasi darurat. “Wilayah kami sekitar 150 meter saja, jadi masih bisa dijangkau untuk membantu pemadaman dari sungai,” ucapnya.

Dalam pengalaman penanganan kebakaran terakhir, Budi menyebut akses lokasi menjadi faktor penting. “Waktu kejadian kemarin, lokasinya di dekat simpang yang cukup luas, jadi mobil pemadam bisa masuk leluasa dan warga juga bisa menyelamatkan barang-barang,” katanya.

Ia menilai, budaya gotong royong warga RT 17 menjadi kekuatan utama dalam menghadapi bencana. Warga dinilai kompak dan saling membantu saat situasi darurat. “Kalau soal kebersamaan, warga di sini guyub rukun, saling bantu tanpa diminta,” ujar Budi.

Namun demikian, Budi mengingatkan adanya potensi bencana lain yang kerap luput dari perhatian, seperti angin puting beliung. “Yang sering merugikan itu justru angin. Kadang seng rumah bisa terbang sampai lima atau sepuluh meter,” katanya.

Melalui kesiapsiagaan warga, dukungan kelurahan, serta kolaborasi dengan pemerintah daerah, RT 17 Kelurahan Sengkotek terus berupaya memperkuat mitigasi bencana berbasis komunitas demi menciptakan lingkungan yang lebih aman dan tangguh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....