Orangutan Makan Sampah di Bengalon Dievakuasi dan Ditranslokasi
- 31 Jan 2026 17:37 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Kutai Timur - Sebuah video yang memperlihatkan seekor orang utan mengais makanan di tumpukan sampah di tepi Jalan Poros Sangatta–Bengalon, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, viral di media sosial pekan lalu. Lokasi tersebut diketahui merupakan tempat pembuangan sampah liar yang berada di jalur perdau, kawasan yang termasuk dalam wilayah metapopulasi orang utan.
Menindaklanjuti video tersebut, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama mitra Conservation Action Network (CAN) dan Center for Orangutan Protection (COP) langsung melakukan penelusuran dan pencarian di lapangan.
Kepala BKSDA Kaltim, M Ari Wibawanto, mengatakan bahwa tim Wildlife Rescue Unit (WRU) segera diterjunkan setelah lokasi aktivitas orang utan dipastikan berada di wilayah Kabupaten Kutai Timur.
“Berdasarkan penelusuran jejak digital dan informasi masyarakat, kami pastikan lokasi itu berada di Jalan Poros Sangatta–Bengalon. Pada Rabu, 27 Januari 2026, kami bersama mitra berhasil menemukan orang utan tersebut dan langsung melakukan upaya penyelamatan,” ujar Ari.
Orang utan tersebut diketahui berjenis kelamin jantan dewasa dengan perkiraan usia 18 hingga 20 tahun. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan kondisinya sehat dan masih memiliki sifat liar.
“Karena kondisinya sehat dan sifat liarnya masih ada, berdasarkan kesepakatan tiga dokter hewan di lokasi, kami memutuskan untuk segera melepasliarkannya kembali ke habitat alaminya,” katanya.
Orang utan yang kemudian diberi nama “Sam” itu selanjutnya ditranslokasi ke Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang, Kabupaten Kutai Timur.
Menurut Ari, penyelamatan harus segera dilakukan karena lokasi ditemukannya orang utan dinilai tidak layak. Di sekitar lokasi terdapat jalan umum, kebun sawit, hingga area pertambangan.
“Posisinya berada di pinggir jalan, diapit kebun sawit dan area tambang. Itu sangat berisiko, baik bagi orang utan maupun manusia, sehingga harus segera kami selamatkan,” ujarnya.
Sementara itu, Founder dan Direktur CAN Borneo, Paulinus Kristanto, mengungkapkan bahwa lokasi tersebut memang telah lama menjadi tempat pembuangan sampah liar oleh masyarakat, terutama sampah sisa makanan.
“Orang utan ditemukan di lokasi orang biasa buang sampah, bukan tempat pembuangan resmi. Berdasarkan keterangan warga, ini bukan kejadian pertama. Sudah beberapa kali orang utan turun ke lokasi itu untuk mencari makan,” kata Paulinus.
Ia menjelaskan, keberadaan sampah makanan di tepi jalan dapat memengaruhi perilaku orang utan. Hewan dilindungi tersebut dapat terbiasa mencari makanan dari sampah dan berpotensi mendekati permukiman warga.
“Ketika orang utan sudah mengenali bau dan rasa makanan manusia, risikonya meningkat. Dia bisa turun ke jalan, bahkan mendekati rumah warga atau menghentikan kendaraan, seperti kasus-kasus sebelumnya,” ujarnya.
Paulinus juga menyoroti kondisi lingkungan di sekitar lokasi yang telah mengalami kerusakan akibat pembukaan lahan dan aktivitas pertambangan.
“Di sekitar lokasi sudah banyak area yang hutannya habis dan berubah menjadi tambang. Bisa dipastikan orang utan kehilangan sumber pakan alaminya dan berpindah ke tempat yang paling mudah, yaitu tumpukan sampah,” kata dia.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak membuang sampah, khususnya sampah makanan, sembarangan di kawasan hutan maupun tepi jalan, karena dapat memicu konflik antara manusia dan satwa liar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....