Bahasa dan Sastra sebagai Fondasi Pembangunan Peradaban
- 30 Jan 2026 15:06 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Bahasa dan sastra bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga penanda jati diri bangsa. Hal inilah yang menjadi dasar pembahasan dalam Program Odah Bekesah Pro 4 RRI Samarinda, menghadirkan Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur, Asep Juanda, S.Ag., M.Hum. Dalam dialog tersebut, Asep Juanda memaparkan evaluasi pelaksanaan empat program prioritas pembangunan kebahasaan dan kesastraan tahun 2025 sekaligus arah kebijakan 2026 di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.
Menurut Asep Juanda, empat program prioritas tersebut merupakan kebijakan nasional yang juga diimplementasikan oleh Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur. Program ini menjadi upaya strategis dalam memperkuat kebahasaan dan kesastraan sebagai fondasi peningkatan mutu pendidikan, penguatan budaya, serta pembentukan generasi literat. “Ujung dari program ini bukan sekadar melaksanakan kegiatan, tetapi sebagai ikhtiar bersama untuk meningkatkan peradaban masyarakat dari tahun ke tahun,” ujarnya.
Empat program prioritas yang dimaksud meliputi peningkatan kecakapan literasi, pemartabatan bahasa Indonesia, revitalisasi dan perlindungan bahasa daerah, serta penginternasionalan bahasa Indonesia. Pada aspek literasi, Balai Bahasa Kaltim berupaya menempatkan bahasa dan sastra sebagai pondasi pembelajaran yang bermakna. Sepanjang 2025, berbagai kegiatan telah dilaksanakan, mulai dari penyediaan dan pemanfaatan buku bacaan bermutu, pembinaan literasi bagi guru dan peserta didik di sekolah dengan indeks literasi rendah, hingga pemberdayaan penulis, sastrawan, dan komunitas literasi dengan dukungan teknologi digital.
Asep Juanda menjelaskan, bacaan bermutu adalah bacaan yang memiliki muatan positif, mencerahkan, mencerdaskan, serta mampu memantik pembacanya berpikir kritis. Ia menekankan pentingnya peran sastra dalam membentuk pola pikir masyarakat. “Karya sastra, meski bersifat imajinatif, lahir dari realitas kehidupan dan budaya. Dari sanalah pembaca belajar memahami konflik dan menemukan nilai-nilai kehidupan,” katanya.
Meski indeks literasi di Kalimantan Timur menunjukkan peningkatan, tantangan tetap ada. Keterbatasan bahan bacaan, akses wilayah yang luas, serta pengaruh gawai dan teknologi menjadi faktor yang memengaruhi minat baca masyarakat. Untuk menjawab tantangan tersebut, Balai Bahasa Kaltim secara rutin memproduksi buku, termasuk buku cerita anak dwibahasa, serta menyalurkannya ke sekolah-sekolah sasaran.
Lebih jauh, Asep Juanda menegaskan bahwa kunci utama peningkatan literasi berada di lingkungan keluarga. Menurutnya, pusat pendidikan tidak hanya sekolah, tetapi juga keluarga dan masyarakat. “Pembiasaan membaca harus dimulai dari rumah, didukung sekolah, dan diperkuat lingkungan masyarakat. Ketiganya harus berjalan beriringan,” katanya. Ia menilai, budaya membaca yang tumbuh secara kolektif, seperti kampung literasi, menjadi contoh baik kesinambungan pendidikan berbasis literasi.
Melalui empat program prioritas kebahasaan dan kesastraan ini, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur berharap bahasa Indonesia semakin bermartabat di dalam negeri, bahasa daerah tetap terlindungi, dan literasi masyarakat terus meningkat. “Semua upaya ini pada akhirnya adalah kontribusi kecil kami untuk membangun peradaban yang lebih baik,” kata Asep Juanda, mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....