Tarif Listrik hingga Ikan Layang Sumbang Inflasi Balikpapan
- 17 Mei 2025 13:03 WIB
- Samarinda
KBRN, Balikpapan: Kebijakan pemerintah yang tidak lagi memperpanjang diskon tarif listrik untuk pelanggan dengan daya 2.200 VA ke bawah menimbulkan persoalan. Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa “kenaikan” tarif listrik menjadi komoditas penyumbang inflasi tertinggi di Kota Balikpapan.
“Komoditas penyumbang inflasi tertinggi di Kota Balikpapan pada bulan April 2025, yang pertama adalah tarif listrik. Kenaikan tarif listrik seiring berakhirnya kebijakan pemerintah yang memberikan diskon sebesar 50 persen untuk pelanggan dengan daya 2.200 VA ke bawah yang berakhir pada Februari 2025 dan kembali normal sejak Maret 2025 (pembayaran pada bulan April untuk pelanggan pasca bayar,” kata Kepala Bank Indonesia Perwakilan Balikpapan, Robi Ariadi.
Tidak hanya tarif listrik, Bank Indonesia juga mencatat beberapa komoditas penyumbang inflasi tertinggi di Kota Minyak. Di antaranya kenaikan harga emas perhiasan, sawi hijau, bahan bakar rumah tangga (BRRT), hingga ikan layang. Kendati demikian, berbagai upaya terus dilakukan Bank Indonesia untuk mencegah terjadinya inflasi. Salah satunya dengan mempercepat realisasi KAD (kerja sama antar daerah).
“Pada 24 April 2025 telah dilaksanakan High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dengan pembahasan berfokus pada upaya untuk mempercepat realisasi KAD di wilayah Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), dan Kabupaten Paser. Berdasarkan hasil pembahasan, disepakati beberapa upaya untuk mengakselerasi realisasi KAD yang telah dituangkan dalam dokumen komitmen bersama yang telah ditandatangani Perumda Prima Jaya Taka (Paser), Perumda Benuo Taka (PPU), dan Perumda Manuntung Sukses (Kota Balikpapan),” katanya.
Robi kembali merinci, Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Balikpapan pada April 2025 mengalami inflasi sebesar 0,69 persen (mtm). Sementara secara tahunan, IHK Kota Balikpapan tercatat inflasi sebesar 1,51 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan nasional yang tercatat inflasi 1,95 persen (yoy), dan gabungan empat kota di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) yang tercatat inflasi 1,57 persen (yoy). (*)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....