Pemahaman Hijrah, Bukan Sekadar Perubahan Instan
- 17 Mar 2026 18:29 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda — Pemahaman hijrah di tengah masyarakat dinilai masih keliru. Sebagian umat menganggap hijrah sebagai perubahan instan yang cukup diucapkan sekali, lalu selesai.
Padahal, hijrah merupakan proses panjang yang berlangsung sepanjang hidup. Perjalanan tersebut mencakup upaya terus-menerus untuk taat, meninggalkan maksiat, serta menjaga konsistensi ibadah hingga akhir hayat.
Dai dari Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Samarinda, Muhammad Hafi, menegaskan hijrah bukanlah peristiwa sesaat, melainkan proses berkelanjutan.
“Hijrah bukan peristiwa sekali jadi. Ini proses seumur hidup. Selama manusia masih berbuat dosa dan terus memperbaiki diri, hijrah tetap berjalan,” ujarnya dalam program Tauladan, Senin 16 Maret 2026.
Ia mengutip hadis Nabi Muhammad yang menjelaskan bahwa hijrah tidak terputus selama pintu tobat masih terbuka. Makna tersebut menegaskan bahwa setiap kesalahan harus diiringi dengan pertobatan serta upaya memperbaiki diri.
Momentum bulan Ramadan, khususnya di penghujungnya, dinilai sebagai waktu penting untuk memperbanyak ibadah dan memperkuat komitmen hijrah. Umat pun didorong untuk segera meninggalkan kebiasaan buruk dan tidak menunda pertobatan.
Selain meluruskan makna hijrah, Muhammad Hafi juga mengingatkan bahaya sikap merasa lebih baik setelah berhijrah. Sikap tersebut berpotensi merusak amal dan menjauhkan dari nilai keikhlasan.
Ia mengutip pandangan ulama Ibnu Athaillah As-Sakandari yang menyebut kondisi seseorang yang merasa hina di hadapan Allah lebih baik dibandingkan ketaatan yang melahirkan kesombongan.
Fenomena merasa paling benar, paling paham agama, hingga menganggap diri lebih tinggi dinilai kerap muncul dalam tren hijrah masa kini. Sikap tersebut justru bertentangan dengan esensi hijrah yang menuntut kerendahan hati.
“Perasaan paling benar atau paling Islami dapat merusak amal. Hijrah seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati, bukan sebaliknya,” katanya.
Ia menilai, di era media sosial, hijrah kerap bergeser menjadi simbol sosial. Kondisi ini mendorong sebagian orang menampilkan identitas keagamaan tanpa diiringi pendalaman makna dan perbaikan akhlak.
Pada akhirnya, hijrah dipahami sebagai perjalanan spiritual yang berkelanjutan. Setiap individu dituntut menjaga niat, terus memperbaiki diri, serta menjauhi kesombongan agar tetap berada di jalan yang benar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....