Puasa Digital: Menjaga Kesucian Ibadah di Era Digital

  • 17 Mar 2026 10:37 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Dalam derasnya arus informasi digital, Ramadan tahun ini membawa tantangan baru bagi umat Muslim. Ustaz Agus Suwarto Edi dari Sahabat Misykat Indonesia dalam siaran bersama Pro 4 RRI Samarinda mengingatkan untuk mengendalikan interaksi dengan teknologi digital. Fenomena masyarakat yang menghabiskan waktu 4 hingga 6 jam sehari di depan layar ponsel menjadi alarm bagi kualitas ibadah di bulan suci ini.

Realitas digital saat ini menunjukkan informasi mengalir tanpa batas, mulai dari yang mencerdaskan hingga yang merusak akhlak. Oleh karena itu, konsep puasa digital hadir untuk memastikan manusia tetap memegang kendali atas teknologi tersebut.

Ustaz Agus mengingatkan pentingnya menjaga pandangan di era digital. "Menundukkan pandangan tidak hanya secara fisik saat bertemu orang, tetapi juga menahan diri dari konten layar yang mengundang maksiat," ujar Ustaz Agus, dikutip Selasa 17 Maret 2026.

Salah satu bahaya terbesar di dunia maya adalah dosa jariyah melalui penyebaran berita bohong atau fitnah. Sering kali seseorang dengan mudah membagikan informasi tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu. Padahal, setiap tindakan termasuk digital, akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt.

Prinsip tabayun atau check and recheck menjadi kunci utama dalam melakukan puasa digital. Masyarakat diimbau untuk menyaring informasi sebelum membagikannya kepada orang lain. Jika sebuah informasi tidak membawa manfaat atau meragukan, maka lebih baik menahan diri untuk tidak menyebarkannya demi menjaga pahala puasa.

Di lingkungan keluarga, puasa digital bisa dimulai dengan menciptakan momen kebersamaan tanpa gangguan ponsel, seperti saat sahur atau berbuka. Orang tua memiliki peran untuk memberikan teladan kepada anak-anak. Mengalihkan waktu penggunaan ponsel untuk kegiatan positif seperti membaca Al-Qur'an digital atau menyimak pengajian bisa menjadi langkah bijak.

"Teknologi itu ibarat pisau bermata dua; bisa menjadi ladang pahala jika digunakan untuk dakwah, namun bisa menjadi ladang dosa jika digunakan untuk hal negatif," ucap Ustaz Agus.

Sebagai penutup, Ustaz Agus menegaskan bahwa nilai sebuah teknologi sangat bergantung pada siapa yang memegangnya. Puasa digital adalah ikhtiar untuk memastikan ponsel menjadi sarana menuju surga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....