Tradisi Beulah Wadai Kering jelang Hari Raya Khas Warga Banjar Samarinda

  • 16 Mar 2026 14:28 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Menjelang Idulfitri, kesibukan masyarakat Samarinda, khususnya warga keturunan Banjar, mulai bergeser ke dapur untuk menyiapkan aneka kudapan khas. Tradisi "Beulah Wadai Karing" atau membuat kue kering menjadi momen hangat yang melambangkan persiapan menyambut hari kemenangan. Beragam jenis kue legendaris seperti Nastar, Ilat Sapi, hingga Keminting kembali diproduksi untuk mengisi toples-toples di meja tamu.

Dalam program Pantas Banjar di RRI Samarinda pada Jumat, 13 Maret 2026, Acil Mila dan Acil Ewwi bersama para pendengar setianya berbagi cerita tentang serunya persiapan kue Lebaran. Meskipun banyak yang memilih untuk membeli secara praktis menggunakan uang Tunjangan Hari Raya (THR), semangat untuk melestarikan rasa otentik dari dapur sendiri tetap terasa kental.

"Biasanya kalau mau Lebaran begini, nastar sudah disiapkan. Meskipun capek mencetak dan mengoles selainya, tapi itu yang bikin suasana Lebaran terasa," ujar Acil Mila saat berbincang hangat mengenai kegemarannya membuat kue nastar di rumah. Menurutnya, aroma mentega dan selai nanas yang tercium dari oven adalah tanda bahwa hari raya sudah di depan mata.

Selain nastar yang menjadi favorit umum, kuliner Banjar memiliki kue-kue tradisional dengan nama yang unik, seperti Ilat Sapi (Lidah Sapi) dan Keminting (Kemiri). Nama-nama ini merujuk pada bentuk kue yang menyerupai lidah atau biji kemiri. Tekstur kue-kue ini biasanya renyah dan memiliki rasa manis yang pas, sangat cocok disandingkan dengan teh hangat saat bersilaturahmi.

Tak hanya soal rasa yang manis, obrolan tentang kegagalan saat bereksperimen di dapur juga menjadi bumbu cerita yang menarik. Pengalaman membuat kue yang berakhir terlalu keras menjadi bahan candaan yang mengakrabkan suasana antarwarga.

"Saking kerasnya itu kue, kalau dilemparkan bisa bikin benjol, seperti roti balok," ujar Acil Ewwi menirukan kelakar khas warga saat menemukan kue yang gagal tekstur. Candaan ini menjadi warna tersendiri dalam persiapan hari kemenangan yang penuh suka cita.

Tradisi beulah wadai ini membuktikan Idulfitri bukan hanya tentang baju baru, melainkan tentang menjaga rasa dan tradisi yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini di meja silaturahmi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....