Madu Mongso Jadi Tradisi Perantau Jawa di Samarinda Sambut Lebaran

  • 16 Mar 2026 13:33 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Menjelang Idulfitri 1447 H, geliat persiapan merayakan hari kemenangan mulai terasa kental di kalangan komunitas perantau Jawa di Samarinda. Bukan sekadar mengecat rumah atau membeli baju baru, para perantau ini tetap setia menjaga tradisi leluhur sebagai pengobat rindu akan kampung halaman, meskipun berada ribuan kilometer dari tanah kelahiran.

Dalam dialog interaktif Pantas Jawa di RRI Samarinda pada Kamis, 13 Maret 2026, terungkap pembuatan penganan tradisional menjadi agenda utama yang menyita waktu dan tenaga ekstra. Salah satu yang paling ikonik adalah Madu Mongso, kudapan manis berbahan dasar tape ketan yang membutuhkan proses pengadukan selama berjam-jam di atas tungku.

Bunda Elsa, salah satu pendengar dari kawasan Maluhu, Kutai Kartanegara, menceritakan bagaimana lelahnya proses persiapan tersebut namun tetap dinikmati demi menjaga cita rasa asli. Ia menyebut bahwa tahun ini dirinya harus bekerja ekstra hingga merasa fisiknya "remuk" demi memastikan hidangan lebaran siap tepat waktu.

"Waduh pokoke, dadi ibu-ibu menjelang lebaran niki luar biasa kegiatane. Damel madu mongso, ngudeke niku masyaallah, suwi niku, sekawan jam (Pokoknya jadi ibu-ibu menjelang Lebaran ini luar biasa kegiatannya. Membuat madu mongso, mengaduknya itu masyaallah, lama itu, bisa empat jam)," ujar Bunda Elsa dalam perbincangan udara melalui sambungan telepon interaktif.

Proses pengadukan yang lama ini bukan tanpa alasan. Menurut tradisi, semakin lama diaduk, madu mongso akan semakin awet dan tidak mudah tengik, sehingga bisa dinikmati hingga sebulan penuh selama masa silaturahmi Lebaran. Tak jarang, pembuatan kue ini dilakukan secara gotong royong antar tetangga atau keluarga besar di perantauan untuk meringankan beban pengerjaan.

Mbah Sapar, narasumber tetap program tersebut, menambahkan selain urusan dapur, tradisi spiritual dan sosial juga mulai dipersiapkan. Tradisi seperti nyekar (ziarah kubur), ater-ater (mengantar makanan ke kerabat yang lebih tua), hingga rencana kenduren selepas salat Id masih terus dipertahankan oleh masyarakat Jawa di Kalimantan Timur.

"Tradisi Jawa niku nggih wonten nyekar, wonten ater-ater nggih menghantari makanan ke sedulur ingkang paling tua. Niku tradisi menjelang hari raya (Tradisi Jawa itu ada ziarah kubur, ada juga hantaran makanan ke saudara yang paling tua. Itu tradisi menjelang hari raya)," kata Mbah Sapar.

Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan budaya para perantau. Meski mereka telah membaur dan menjadi bagian dari masyarakat Kalimantan Timur, momen Idul Fitri menjadi ruang bagi mereka untuk menghidupkan kembali identitas kultural Jawa melalui simbol-simbol kuliner dan tata krama sosial.

Bagi para perantau di Samarinda dan sekitarnya, Lebaran bukan hanya soal kembali ke fitrah secara spiritual, tetapi juga momen "pulang" ke akar budaya melalui aroma madu mongso yang diaduk dengan sabar dan hangatnya sapaan dalam bahasa ibu yang bergema di ruang tamu mereka.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....