Lingkungan Pertemanan Pengaruhi Kualitas Keimanan Umat
- 09 Mar 2026 10:30 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda — Momentum bulan suci Ramadan dinilai menjadi waktu yang tepat bagi umat Islam untuk memperbaiki kualitas lingkungan pergaulan atau “circle” pertemanan. Hal itu disampaikan oleh ustaz Abdi Rahman dari Majelis Ulama Indonesia Kalimantan Timur dalam program Tauladan, dikutip Senin 9 Maret 2026.
Menurutnya, dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak bisa terlepas dari interaksi sosial dan pertemanan. Namun dalam pandangan Islam, hubungan pertemanan tidak sekadar urusan sosial, melainkan juga berkaitan erat dengan kualitas iman seseorang.
“Sering kali kita berteman karena merasa nyaman, sering bertemu, atau memiliki hobi yang sama. Padahal dalam Islam, pertemanan juga berhubungan dengan urusan keimanan karena teman dapat memengaruhi sikap, cara berpikir, bahkan tingkat ketakwaan seseorang,” katanya.
Ia mengutip sabda Nabi Muhammad SAW yang menyatakan, seseorang berada di atas agama teman dekatnya. Karena itu, setiap orang dianjurkan untuk memperhatikan dengan siapa ia menjalin kedekatan.
Dalam hadis tersebut Rasulullah menggunakan istilah khalil yang berarti sahabat yang sangat dekat, yakni orang yang sering bersama dan menghabiskan waktu bersama. Sosok inilah yang secara perlahan dapat membentuk karakter seseorang.
Ia mencontohkan kisah masuk Islamnya Umar bin Khattab yang awalnya dikenal sebagai penentang keras dakwah Nabi. Namun setelah berinteraksi dengan lingkungan yang telah memeluk Islam, hatinya luluh hingga akhirnya menjadi salah satu pembela utama agama tersebut.
“Dari kisah ini kita melihat bahwa pertemanan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perubahan seseorang,” ujarnya.
Abdi Rahman juga mengingatkan agar masyarakat tidak merasa terlalu kuat sehingga menganggap diri tidak akan terpengaruh oleh lingkungan pergaulan. Menurutnya, manusia pada dasarnya mudah dipengaruhi oleh lingkungan, baik dalam kebaikan maupun keburukan.
Ia mencontohkan, seseorang yang awalnya jarang melaksanakan salat bisa terdorong menjadi lebih rajin jika berada di lingkungan yang disiplin salat berjamaah. Sebaliknya, jika seseorang terus berada dalam lingkungan yang jauh dari nilai-nilai keagamaan, maka perlahan ia juga bisa menjauh dari kebiasaan beribadah.
“Perubahan itu sering kali terjadi tanpa disadari. Awalnya hanya duduk atau mendengar, lama-lama terbiasa, kemudian ikut melakukan,” katanya.
Karena itu, ia menilai Ramadan menjadi momentum yang tepat bagi umat Islam untuk menata kembali lingkungan pergaulan dan memperkuat hubungan dengan orang-orang yang membawa pengaruh positif.
Meski demikian, Abdi Rahman menegaskan bahwa Islam tidak melarang umatnya berinteraksi dengan siapa pun, termasuk dengan orang dari latar belakang suku, ras, maupun agama yang berbeda. Namun, setiap orang perlu bijak menentukan siapa yang menjadi lingkaran pertemanan terdekat.
“Circle terdekat itulah yang biasanya menjadi tempat berbagi cerita, meminta nasihat, dan saling memengaruhi arah hidup ke depan,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....