Tradisi Ramadan di Surabaya, Jawa Timur
- 09 Mar 2026 08:35 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Bulan Ramadan selalu menghadirkan suasana yang berbeda di berbagai daerah di Indonesia. Setiap wilayah memiliki tradisi, kebiasaan, hingga kuliner khas yang mewarnai perjalanan ibadah selama bulan suci. Melalui berbagai cerita tersebut, masyarakat dapat saling mengenal kekayaan budaya Ramadan yang tumbuh di Nusantara.
Dalam program Kesah Ramadan Pro 4 RRI Samarinda menghadirkan narasumber Fatimatuz Zahroh. Dalam perbincangan tersebut, ia berbagi cerita mengenai suasana Ramadan di Kota Surabaya yang menurutnya terasa lebih hidup dan hangat dibandingkan hari-hari biasa. “Kalau sudah dengar kata Ramadan di Surabaya itu yang pertama terlintas adalah suasananya. Rasanya lebih hidup dan lebih hangat karena banyak aktivitas seperti mencari takjil, tadarus di masjid, dan buka bersama,” ujarnya.
Menurut Zahroh, suasana kebersamaan menjadi salah satu hal yang paling terasa ketika Ramadan tiba. Aktivitas sederhana seperti berbuka puasa dan sahur pun menjadi momen yang lebih bermakna karena dilakukan bersama keluarga atau teman-teman. Ia menilai Ramadan menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk mempererat hubungan sosial yang mungkin jarang terjadi di hari-hari biasa.
Selain suasana kebersamaan, Zahroh juga mengatakan adanya tradisi khas masyarakat Jawa Timur menjelang Ramadan yang dikenal dengan “megengan”. Tradisi ini biasanya diisi dengan doa bersama sebagai ungkapan syukur menyambut bulan suci. “Di awal Ramadan biasanya ada tradisi megengan, yaitu doa bersama sebagai wujud syukur bisa bertemu lagi dengan Ramadan. Biasanya juga ada makanan khas seperti kue apem yang melambangkan kata ‘afwan’ atau maaf,” ucapnya.
| Baca juga: Tradisi yang Tetap Lestari di Kota Kembang |
Ia juga menceritakan bahwa Ramadan di Surabaya identik dengan ragam kuliner yang menggugah selera saat waktu berbuka tiba. Salah satu minuman yang cukup populer adalah sinom yang memiliki rasa segar, serta makanan khas seperti lontong balap. “Kalau di Surabaya, buka puasa dengan minuman sinom itu rasanya segar sekali. Untuk makanan khasnya ada lontong balap yang isinya lontong, tauge, tahu goreng, lento dari kacang, dan kuah gurih,” kata Zahroh.
Keterlibatan generasi muda juga menjadi bagian penting dalam meramaikan Ramadan. Zahroh mengatakan bahwa mahasiswa maupun remaja masjid di Surabaya aktif menggelar kegiatan sosial seperti berbagi takjil, buka puasa bersama, hingga kegiatan sahur bersama di masjid. “Biasanya remaja masjid dilibatkan untuk membantu menyiapkan takjil dan makanan berbuka bagi jamaah. Bahkan ada juga kegiatan qiyamul lail dan sahur bersama yang terbuka untuk masyarakat,” katanya.
Zahroh berharap tradisi dan semangat kebersamaan selama Ramadan dapat terus terjaga di masa mendatang. Ia menilai berbagai program sosial yang digagas oleh masyarakat dan pengurus masjid menjadi bukti bahwa Ramadan selalu menghadirkan energi kebaikan bagi banyak orang. “Harapannya semoga ke depan semakin banyak kegiatan yang mengarah pada kebaikan, sehingga semangat berbagi dan kebersamaan di bulan Ramadan bisa terus dirasakan oleh generasi berikutnya,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....