Ramadan Hening Rafa di Polandia

  • 28 Feb 2026 20:52 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Setiap perantau membawa ceritanya masing-masing tentang belajar, rencana yang berubah, dan keberanian memulai ulang. Di Polandia, seorang perempuan muda menutup satu bab dan membuka lembaran baru dalam hidupnya. Namanya Rafa Listyani Rahman, lulusan magister bidang Biologi Molekuler yang baru saja menyelesaikan studinya.

“Nama aku Rafa Listyani Rahman, biasa dipanggil Rafa. Aku baru saja selesai menempuh pendidikan master di Polandia, jurusan Molecular Biology, dan sekarang bisa dibilang fresh graduate,” ujarnya. Perjalanan akademiknya tidak selalu berjalan lurus. Ia sempat melanjutkan studi doktoral selama dua bulan sebelum akhirnya memutuskan berhenti pada Desember 2025. “Sebenarnya ceritanya agak panjang. Jadi sebelumnya aku sempat lanjut S3 selama dua bulan, tapi karena satu dan lain hal aku mutusin berhenti,” ucapnya.

Keputusan tersebut bukan perkara mudah. Rafa kini bersiap memasuki dunia kerja secara penuh waktu sebagai auditor halal di Muslim Religious Union in Poland. Ia bahkan mengikuti pelatihan dari Majelis Ulama Indonesia untuk memperoleh sertifikasi. “Sekarang aku lagi bersiap pindah kota dan nyemplung ke dunia kerja. Alhamdulillah aku sudah dapat kerja dan sedang mempersiapkan kerja di Januari 2026,” katanya optimistis.

Dua tahun lalu, Rafa datang ke Polandia berbekal rasa penasaran terhadap sistem pendidikan Eropa. Ia menempuh studi di Maria Curie-Skłodowska University yang terletak di kota kecil Lublin. “Kampus aku di UMCS, di kota kecil namanya Lublin. Bukan di ibu kota Polandia,” jelasnya. Meski jauh dari hiruk-pikuk ibu kota, justru di kota kecil itulah ia membangun pondasi akademik dan kemandirian.

Selama tinggal di Polandia, Rafa merasakan perbedaan ritme kehidupan di berbagai kota. Ia kerap mengunjungi Warsaw dan beberapa kota lain seperti Kraków, Wrocław, Gdańsk, serta Zakopane. Kesan pertamanya terhadap Polandia begitu membekas ketika melihat Palace of Culture and Science di Warsaw. “Itu salah satu gedung tertinggi di Eropa, dan rasanya Eropa banget,” katanya.

Menurut Rafa, keteraturan menjadi ciri kuat kehidupan di Polandia. “Negaranya tertib. Di mana-mana ada lampu lalu lintas untuk mengatur pejalan kaki, bus, mobil, semua transportasi,” katanya. Ia bahkan terkejut melihat masyarakat tetap menunggu lampu hijau meski jalanan kosong. “Walaupun lampu merah kosong nggak ada kendaraan, mereka tetap nunggu sampai hijau,” ujarnya, menegaskan bahwa disiplin telah menjadi kebiasaan.

Di tengah keteraturan tersebut, Ramadan tetap dijalankan dengan khusyuk meski sebagai minoritas. “Umat muslim di sini menjalankan ibadah Ramadan sama kayak di Indonesia,” kata Rafa. Ia pernah merasakan buka puasa bersama di Lublin yang dikelola oleh keluarga asal Turki. “Mereka masak makanan Turki yang halal dan bisa dimakan semua orang. Itu sangat berkesan,” kenangnya, seraya menambahkan bahwa persaudaraan sesama muslim terasa hangat tanpa batas negara.

Tantangan terbesar Ramadan di Polandia bukan hanya soal durasi puasa yang berubah sesuai musim, melainkan juga rasa rindu kepada keluarga. “Culture shock aku saat Ramadan itu karena nggak sama keluarga. Biasanya ada yang bangunin, masakin, dan makan bareng,” ungkapnya. Ia harus bangun sendiri untuk sahur dan menyiapkan segala kebutuhan secara mandiri. Kesederhanaan itu justru mengajarkannya ketangguhan.

Dalam urusan makanan halal, Rafa mengakui tidak semudah di Indonesia. “Cari makanan halal di sini susah, nggak kayak di Indonesia. Jarang banget nemu logo halal,” katanya. Karena itu, ia lebih sering memasak sendiri di dapur kos. Menu sederhana seperti ayam, telur, hingga sop ayam dan opor menjadi cara mengobati rindu rumah.

Meski tanpa hiruk-pikuk festival seperti di tanah air, Rafa menemukan makna Ramadan yang lebih tenang. “Pengalaman puasaku di sini lebih calm. Ya sudah, puasa, ibadah, sampai hari terakhir, Idulfitri. Sesederhana itu,” tuturnya. Di negeri yang jauh dari kampung halaman, ia belajar bahwa jarak bukan sekadar soal ruang, melainkan proses menguatkan diri. Ramadan di perantauan menjadi ruang refleksi tentang kesabaran, kemandirian, dan keyakinan bahwa rumah selalu menunggu di ujung doa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....