Pengalaman Jalani Ibadah Ramadan di Jember yang Sarat Rasa dan Makna

  • 23 Feb 2026 06:06 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Ramadan selalu hadir membawa warna yang berbeda di setiap daerah. Tradisi, kuliner, hingga kebiasaan masyarakat menjadi bagian dari kekayaan budaya yang memperkaya suasana bulan suci.

Dalam program Kesah Ramadan Pro 4 RRI Samarinda, edisi Minggu 22 Februari 2026, hadir cerita dari Jember, Jawa Timur. Lita Arsita seorang food blogger yang lahir di Banyuwangi dan besar di Jember. Ia membagikan kisahnya tentang Ramadan di Kota Tembakau tersebut. “Kalau mendengar kata Ramadan di Jember itu seru. Religius, hangat, penuh kebersamaan,” ujarnya.

Menurut Lita, suasana Ramadan di Jember terasa hidup sejak menjelang magrib. Masjid dan musala ramai dengan tarawih dan tadarus, sementara jalanan dipenuhi warga yang berburu takjil. Salah satu jajanan khas yang paling diburu adalah petulo, kue berbahan tepung berwarna-warni yang disajikan dengan kuah santan manis. “Selain kolak dan gorengan, petulo ini yang khas banget dicari saat ngabuburit,” katanya.

Tak hanya takjil, Jember juga memiliki sajian unik seperti rawon pecel, perpaduan nasi pecel dengan kuah rawon lengkap dengan dagingnya. Ada pula prol tape serta edamame yang kerap menjadi pilihan camilan. “Habis makan manis-manis, biasanya saya imbangin dengan yang lebih sehat seperti edamame,” ucapnya.

Sebagai food blogger, Ramadan menjadi momen paling sibuk sekaligus berkesan bagi Lita. Ia kerap menerima undangan dari berbagai UMKM untuk mencicipi dan mengulas menu buka puasa. “Tahun lalu hampir setiap hari saya konten makanan. Seru banget, tapi memang harus pintar jaga kesehatan,” ujarnya. Untuk menjaga stamina, ia mengimbanginya dengan minuman herbal seperti jeruk nipis dan menjaga pola hidup sehat.

Di luar kuliner, tradisi sosial di Jember juga sangat terasa. Menjelang Ramadan biasanya diadakan selamatan dan ater-ater, tradisi berbagi makanan ke tetangga sebagai bentuk silaturahmi. Selain itu, ada santunan anak yatim, zakat fitrah, hingga i’tikaf di sepuluh malam terakhir.

Yang paling meriah adalah festival patrol sahur. Tradisi membangunkan warga untuk sahur dengan musik patrol ini bahkan dilombakan dan diikuti berbagai kalangan, terutama generasi muda. “Festival patrol itu ramai sekali. Jadi bukti anak muda masih antusias menjaga tradisi,” ujar Lita.

Ia juga menyoroti kawasan Jalan Kalimantan dan Jalan Jawa di Jember yang setiap sore Ramadan dipenuhi mahasiswa dan pelaku UMKM berjualan takjil. Kreativitas generasi muda terlihat jelas di sana. “Ramadan di Jember bukan hanya ibadah pribadi, tapi juga soal kebersamaan dan kepedulian sosial,” katanya.

Lita berharap tradisi positif di Jember tetap terjaga. “Semoga berbagi takjil, santunan, kerja bakti, dan festival patrol tetap dilestarikan. Generasi muda harus terus dilibatkan supaya nilai kebersamaan dan gotong royong tidak tergerus zaman,” ucap Lita.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....