Puasa Jadi Sarana Latih Kejujuran dan Sabar

  • 20 Feb 2026 15:33 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Program "Dunia Anak" RRI Pro 4 Samarinda menyoroti pentingnya ibadah puasa sebagai instrumen utama dalam membentuk karakter jujur dan sabar pada anak sejak dini. Puasa Ramadan bukan sekadar aktivitas menahan lapar, melainkan sebuah latihan mental untuk mengontrol emosi dan perilaku. Dengan pengenalan yang tepat, anak akan memahami bahwa esensi ibadah adalah memperbaiki kualitas diri di hadapan Tuhan dan sesama.

Pendidikan moral ini ditekankan melalui konsep bahwa puasa berarti menahan segala bentuk nafsu, termasuk keinginan untuk marah atau berbohong. Anak-anak diajak untuk menyadari, kejujuran adalah nilai tertinggi dalam beribadah, di mana mereka tetap teguh tidak makan meskipun tanpa pengawasan orang tua. Latihan ini secara perlahan akan membangun integritas dalam diri anak yang akan terbawa hingga mereka dewasa nanti.

Dalam siaran tersebut, narasumber cilik Ayah Sofia menekankan, pengendalian lisan adalah bagian tak terpisahkan dari puasa. "Bukan hanya menahan lapar dan menahan haus, kita juga menahan marah dan berkata jujur," ujar Sofia saat menjelaskan makna puasa pada program Dunia Anak Programa 4 Samarinda pada Minggu, 8 Februari 2026. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman moral dasar sudah bisa ditanamkan bahkan pada anak usia sekolah dasar.

Selain aspek kejujuran, puasa juga menjadi media untuk menumbuhkan empati terhadap penderitaan orang lain yang kurang beruntung. Anak-anak diajak merasakan sedikit rasa lapar agar mereka lebih terdorong untuk berbagi melalui sedekah dan infak. Karakter peduli ini sangat efektif dibentuk di bulan Ramadan karena atmosfer sosial yang sangat mendukung untuk melakukan berbagai kegiatan kemanusiaan.

Sisi spiritual anak juga diperkuat dengan pemahaman mengenai konsep takwa, yaitu menjalankan perintah Allah dengan penuh kesadaran. Melalui dongeng "Lampu Kebaikan", anak-anak diajarkan bahwa berbuat baik kepada sesama adalah cara untuk menjaga cahaya iman di dalam hati. Dengan demikian, puasa tidak lagi dilihat sebagai beban, melainkan sebuah tantangan menyenangkan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih mulia.

Peran orang tua sangat krusial dalam membimbing anak menghadapi godaan-godaan buruk, yang dalam siaran ini disimbolkan melalui karakter "Setanio". Orang tua harus mampu memberikan alasan yang logis dan menyentuh hati mengapa kebaikan harus tetap dilakukan meski dalam kondisi lapar. Dengan komunikasi yang suportif, anak akan merasa bangga ketika berhasil mengalahkan rasa malas atau amarahnya demi tujuan ibadah.

Sebagai penutup, ditekankan bahwa keberhasilan puasa anak tidak hanya diukur dari lamanya mereka menahan lapar, tetapi dari perubahan perilaku positif yang ditunjukkan. "Anak keren rajin berpuasa dan tetap memilih berbuat baik meski sedang menahan haus," ujar Kak Triana. Fokus pada pembangunan karakter ini diharapkan menciptakan generasi yang tidak hanya taat agama, tetapi juga memiliki akhlak yang mulia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....