Ramadan Sederhana di Tengah Budaya Konsumtif

  • 18 Feb 2026 21:18 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Ramadan identik dengan kebersamaan dan aneka kuliner khas berbuka. Namun di balik semaraknya bazar takjil dan agenda buka bersama, muncul ironi mengenai peningkatan konsumsi dan lonjakan sampah makanan sisa.

Fenomena ini menjadi sorotan dalam tausiyah Hikmah Pagi di RRI Pro 4 Samarinda. Menanggapi hal itu, Ustaz Rahmatullah mengakui godaan belanja takjil sering kali berlebihan. Namun seorang Muslim harus menjaga kesederhanaan tanpa kehilangan kegembiraan di bulan Ramadan.

“Saat lapar, kita merasa semua ingin dibeli. Padahal ketika berbuka, dua atau tiga buah kurma sudah cukup,” kata Ustaz Rahmatullah. Oleh karena itu, ia menyarankan membuat jadwal menu sederhana agar belanja lebih terkontrol.

Tak hanya soal makanan, ia juga mengkritisi budaya buka bersama yang kerap melampaui batas. “Silaturahmi itu baik, tetapi jangan sampai waktu salat terabaikan atau makanan terbuang sia-sia,’’ ujar Ustaz Rahmatullah.

Konsep “Green Ramadan” diperkenalkan sebagai refleksi. Ramadan ramah lingkungan berarti meminimalkan sampah plastik, mengurangi pemborosan, serta mengalihkan sebagian anggaran konsumtif untuk sedekah.

Ia juga mengutip pandangan ulama Yusuf al-Qaradawi yang menekankan pentingnya ibadah di bulan Ramadan, terutama qiyamul lail. Niat dan konsisten, menjadi kunci agar semangat beribadah di awal hingga akhir Ramadan.

Ustaz Rahmatullah menyimpulkan Ramadan sebagai momentum menata ulang hidup. Pesan ini menjadi pengingat bahwa puasa bukan hanya menahan lapar, melainkan juga mengendalikan perilaku konsumtif serta menumbuhkan kesadaran untuk hidup sederhana.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....