Tanpa Banyak Drama, Kolombia Tunjukkan Jalan Menuju Mimpi Besar

  • 04 Jul 2026 17:33 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Kolombia kembali memperlihatkan mengapa mereka layak disebut sebagai salah satu kuda hitam Piala Dunia FIFA 2026. Bermain disiplin, efektif, dan nyaris tanpa memberi ruang kepada lawan, Los Cafeteros menundukkan Ghana 1-0 pada babak 32 besar di Kansas City, Missouri, Sabtu, 4 Juli 2026, untuk mengamankan tiket ke babak 16 besar menghadapi Swiss.

Skor tipis memang menghiasi papan pertandingan, tetapi jalannya laga menunjukkan dominasi mutlak Kolombia. Tim asuhan Néstor Lorenzo mengontrol permainan hampir sepanjang pertandingan, menciptakan peluang demi peluang, sementara Ghana gagal melepaskan satu pun tembakan tepat sasaran hingga peluit panjang dibunyikan.

Laga sempat berjalan kurang ideal ketika kedua tim sama-sama kehilangan pemain akibat cedera pada 13 menit pertama. Jhon Córdoba lebih dulu meninggalkan lapangan sehingga memaksa Lorenzo memasukkan Luis Suárez lebih cepat dari rencana. Beberapa saat kemudian, Ghana juga kehilangan Marvin Senaya yang harus ditarik keluar sambil menahan kesakitan.

Pergantian tersebut justru menjadi titik balik bagi Kolombia.

Luis Suárez langsung memberi dampak melalui pergerakan agresif di sisi kanan. Pada menit ke-14, umpan silang keduanya berhasil melewati lini pertahanan Ghana sebelum disambut Jhon Arias di tiang jauh. Tanpa pengawalan berarti, gelandang Palmeiras itu melepaskan penyelesaian satu sentuhan ke pojok kanan bawah gawang yang gagal dijangkau Lawrence Ati Zigi.

Gol tersebut menjadi salah satu gol tercepat Kolombia dalam sejarah Piala Dunia. Arias hanya kalah dari Pablo Armero yang mencetak gol pada menit kelima saat menghadapi Yunani di Piala Dunia 2014.

Setelah unggul, Kolombia sama sekali tidak mengendurkan tekanan. James Rodriguez menjadi pusat distribusi serangan dengan visi bermain yang tetap tajam meski mobilitasnya mulai menurun. Salah satu umpannya hampir berbuah gol ketika Luis Díaz lolos di sisi kiri, tetapi penyelesaian winger Liverpool itu hanya mengenai sisi luar jaring.

Ghana bertahan habis-habisan. Jika bukan karena penampilan gemilang Lawrence Ati Zigi, skor kemungkinan sudah berubah menjadi lebih besar sebelum turun minum. Penjaga gawang Saint Gallen tersebut beberapa kali melakukan penyelamatan penting, termasuk menggagalkan sundulan Johan Mojica.

Babak kedua tidak banyak mengubah arah pertandingan. Kolombia terus menguasai bola dan menciptakan peluang melalui Gustavo Puerta, Díaz, Juan Fernando Quintero, hingga Davinson Sánchez. Bahkan Díaz sempat mencetak gol, namun dianulir karena berada dalam posisi offside.

Sebaliknya, Ghana kesulitan mengembangkan permainan. Tim asuhan Carlos Queiroz hanya sesekali mengandalkan serangan balik. Peluang terbaik mereka datang melalui Antoine Semenyo, tetapi umpan silang mendatarnya gagal disambut rekan setim.

Yang paling mencolok dari pertandingan ini adalah betapa rapinya organisasi permainan Kolombia. Saat kehilangan bola, seluruh pemain langsung melakukan tekanan untuk memutus aliran serangan Ghana. Hasilnya, wakil Afrika tersebut sama sekali tidak mampu menciptakan satu tembakan tepat sasaran sepanjang pertandingan.

Data pertandingan semakin memperlihatkan perbedaan kualitas kedua tim. Kolombia melepaskan 20 tembakan dibandingkan delapan milik Ghana. Nilai expected goals (xG) mereka mencapai 2,19, sedangkan Ghana hanya menghasilkan 0,26. Angka tersebut menunjukkan bahwa dominasi Kolombia bukan sekadar dalam penguasaan bola, tetapi juga dalam kualitas peluang yang diciptakan.

Performa Jhon Arias menjadi sorotan utama. Setelah sempat menjalani masa sulit di Liga Inggris bersama Wolverhampton Wanderers, gelandang berusia 28 tahun itu menemukan kembali performa terbaiknya setelah kembali bermain di Brasil bersama Palmeiras. Golnya menjadikan Arias sebagai pemain kedua yang mencetak gol di fase gugur Piala Dunia pada abad ke-21 saat masih berkarier di Liga Brasil, setelah Robinho melakukannya pada 2010.

Meski hanya menang dengan selisih satu gol, Kolombia kembali menunjukkan karakter sebagai tim yang matang. Mereka tidak tergesa-gesa menyerang, tetapi juga tidak memberi lawan kesempatan untuk berkembang. Filosofi permainan Néstor Lorenzo yang menekankan keseimbangan antara penguasaan bola dan disiplin bertahan mulai memperlihatkan hasil nyata.

Kini tantangan yang lebih berat telah menanti. Di babak 16 besar, Kolombia akan menghadapi Swiss dalam duel yang diprediksi berlangsung jauh lebih terbuka. Jika mampu mempertahankan konsistensi permainan seperti saat menyingkirkan Ghana, Los Cafeteros memiliki peluang besar melangkah ke perempat final dan terus menjaga mimpi meraih prestasi terbaik sepanjang sejarah mereka di Piala Dunia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....