Belgia Bangkit Dramatis, Singkirkan Senegal lewat Drama 125 Menit
- 02 Jul 2026 07:26 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Piala Dunia FIFA 2026 kembali menghadirkan kisah yang sulit dipercaya. Belgia bangkit dari ketertinggalan dua gol untuk menyingkirkan Senegal 3-2 setelah perpanjangan waktu pada babak 32 besar, Kamis, 2 Juli 2026. Gol penalti Youri Tielemans pada menit ke-125 memastikan Setan Merah melangkah ke babak 16 besar sekaligus mengulang salah satu comeback paling dramatis dalam sejarah turnamen.
Selama lebih dari 80 menit, Belgia tampak seperti tim yang akan mengakhiri perjalanan generasi emas mereka. Senegal tampil jauh lebih agresif, lebih cepat, dan lebih efisien. Habib Diarra membuka keunggulan pada menit ke-25 setelah memanfaatkan bola muntah hasil sundulan Ismaila Sarr yang membentur tiang. Awal babak kedua menjadi mimpi buruk bagi Belgia ketika Sarr menggandakan keunggulan melalui penyelesaian kelas tinggi setelah mengontrol bola dada sebelum melepaskan tendangan keras ke sudut atas gawang.
Pada titik itu, hampir semua prediksi mengarah kepada Senegal. Permainan Belgia kehilangan ritme, Kevin De Bruyne tidak mampu memberi pengaruh seperti biasanya, bahkan ditarik keluar pada menit ke-56, pergantian paling cepat yang pernah dialaminya sepanjang tampil di Piala Dunia. Jeremy Doku juga lebih dulu ditarik keluar, memperlihatkan bahwa pelatih Rudi Garcia sedang berjudi dengan seluruh rencana permainannya.
Namun, justru dari keputusan yang dianggap berisiko itulah Belgia menemukan kehidupan baru.
Masuknya Romelu Lukaku mengubah wajah serangan Belgia. Selama fase grup, penyerang Napoli itu belum berada dalam kondisi terbaik akibat cedera yang mengganggu akhir musimnya. Namun insting predatornya belum pernah hilang. Menit ke-86, Lukaku menyambut umpan Thomas Meunier dengan penyelesaian tajam di tiang dekat. Gol itu bukan sekadar memperkecil ketertinggalan, melainkan menghidupkan kembali keyakinan seluruh skuad Belgia.
Hanya tiga menit berselang, Senegal melakukan kesalahan yang selama ini nyaris tak mereka lakukan sepanjang turnamen. Kiper Mory Diaw gagal mengantisipasi bola lambung hasil kerja sama Leandro Trossard dan Youri Tielemans. Sang kapten Belgia menyundul bola ke gawang kosong untuk mengubah skor menjadi 2-2.
Momentum yang selama lebih dari satu jam berada di kubu Senegal berpindah sepenuhnya kepada Belgia.
Perpanjangan waktu berjalan hati-hati karena kedua tim mulai kehilangan energi. Belgia sempat membentur mistar melalui Dodi Lukebakio. Ketika pertandingan tampak akan ditentukan lewat adu penalti, drama kembali terjadi. Wasit mendapat panggilan VAR setelah Lamine Camara menjatuhkan Tielemans di kotak penalti pada awal rangkaian serangan.
Setelah peninjauan yang berlangsung cukup lama, penalti diberikan. Tielemans yang baru beberapa menit sebelumnya menyamakan kedudukan, maju sebagai algojo. Dengan tenang, gelandang Aston Villa itu mengirim bola ke pojok kanan atas gawang pada menit ke-125, menjadi gol paling akhir yang pernah tercipta dalam sejarah Piala Dunia.
Pertandingan ini menyimpan ironi besar. Senegal sesungguhnya bermain lebih baik hampir sepanjang laga. Kecepatan Ismaila Sarr terus merepotkan lini belakang Belgia, sementara Habib Diarra tampil luar biasa di lini tengah. Diarra bahkan menjadi pemain Senegal pertama yang mencetak gol dalam dua starter pertamanya di Piala Dunia. Sarr sendiri menyamai rekor Roger Milla sebagai pemain Afrika dengan empat gol dalam satu edisi Piala Dunia.
Namun, sepak bola di level tertinggi tidak selalu ditentukan oleh siapa yang bermain lebih dominan. Turnamen seperti Piala Dunia sering kali dimenangkan oleh tim yang mampu mengelola momentum, dan Belgia menunjukkan kualitas tersebut.
Ada satu kesamaan mencolok dengan kisah mereka delapan tahun lalu. Pada Piala Dunia 2018 di Rusia, Belgia juga tertinggal dua gol sebelum membalikkan keadaan menjadi kemenangan 3-2 atas Jepang di babak 16 besar. Delapan tahun berselang, skenario hampir identik kembali terjadi. Tertinggal dua gol, bangkit pada menit-menit akhir, lalu menang dengan skor yang sama.
Belgia pun menjadi tim kedua dalam sejarah Piala Dunia yang dua kali memenangi pertandingan fase gugur setelah tertinggal dua gol, menyamai pencapaian Jerman Barat yang melakukannya pada 1954 dan 1970.
Di balik kemenangan dramatis tersebut, terdapat pesan yang lebih besar. Generasi emas Belgia memang telah memasuki senja. Kevin De Bruyne, Romelu Lukaku, Thibaut Courtois, hingga Thomas Meunier bukan lagi pemain muda. Namun pengalaman mereka masih menjadi pembeda ketika tekanan mencapai titik tertinggi.
Sebaliknya, Senegal harus pulang dengan penyesalan mendalam. Mereka hanya membutuhkan empat menit lagi untuk mengamankan tiket ke babak 16 besar. Sebuah kelengahan, satu kesalahan membaca bola, dan satu keputusan VAR menghapus semua kerja keras yang telah dibangun selama hampir dua jam pertandingan.
Kini Belgia menjaga mimpi mereka tetap hidup. Namun jika ingin melangkah lebih jauh, Rudi Garcia harus menemukan jawaban atas buruknya performa timnya selama 80 menit pertama. Sebab, kebangkitan luar biasa seperti ini tidak akan selalu datang dua kali di panggung sebesar Piala Dunia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....