Nostalgia dan Harapan Komunitas Jawa Samarinda Menyambut Piala Dunia 2026
- 30 Mei 2026 21:41 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Menyambut kemeriahan turnamen sepak bola terakbar dunia, komunitas perantau etnis Jawa di Kota Samarinda mulai mempererat kebersamaan lewat ruang budaya. Melalui seni dan diskusi, momentum Piala Dunia 2026 dijadikan sebagai jembatan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai gotong royong dan tradisi lokal yang melekat pada olahraga sepak bola.
Tokoh budaya sekaligus pemandu program Pantas Pro 4 RRI Samarinda pada Kamis, 21 Mei 2026, Mbah Sapar, menjadi penggerak utama dalam merajut memori kolektif warga perantauan lewat topik bal-balan (sepak bola). Ia menegaskan bahwa bagi masyarakat Jawa, sepak bola bukan sekadar permainan taktis di lapangan hijau, melainkan sebuah tradisi yang mengakar kuat di dalam tatanan sosial masyarakat.
Menurut Mbah Sapar, sepak bola adalah instrumen pemersatu yang paling efektif untuk mengumpulkan warga, baik di tanah kelahiran maupun di perantauan seperti Samarinda. Atmosfer turnamen internasional ini diyakini mampu membangkitkan kembali semangat kebersamaan yang biasanya memuncak dalam kompetisi antar-kampung.
"Sepak bola itu sudah menjadi tradisi olahraga yang paling memasyarakat dan paling populer di Indonesia. Kalau di Jawa, setiap momen menjelang perayaan Agustus-an, pertandingan antarkampung pasti digelar untuk merekatkan kebersamaan," ujar Mbah Sapar.
Antusiasme yang dilemparkan Mbah Sapar langsung disambut hangat oleh para pendengar yang ikut bernostalgia. Salah seorang warga, Ibu Yuli, membenarkan filosofi sepak bola kampung tersebut yang kerap mengutamakan unsur hiburan dan sportivitas tanpa memandang gender.
"Benar kata Mbah Sapar, kalau menjelang Agustus-an ramai sekali pertandingan kelurahan. Bahkan ibu-ibu ikut memeriahkan dengan bermain bola memakai daster dan jilbab, itu yang membuat suasana rukun," kata Ibu Yuli saat berbagi cerita melalui sambungan telepon interaktif.
Mbah Sapar juga menggarisbawahi bahwa demam sepak bola global saat ini sudah bergeser ke arah yang lebih positif, di mana persaingan antarkomunitas kini digantikan oleh kekaguman terhadap taktik dan perkembangan olahraga moderen. Hal ini terlihat dari cara warga perantauan dalam memetakan kekuatan tim-tim dunia yang akan berlaga.
Di akhir ulasannya, Mbah Sapar mengajak seluruh komunitas untuk melihat perkembangan sepak bola tanah air dengan kacamata optimistis. Ia berharap peningkatan kualitas infrastruktur stadion di Indonesia di masa depan dapat membuka jalan bagi generasi muda untuk merasakan langsung atmosfer kompetisi di level internasional.
"Peta kekuatan sepak bola sekarang sudah merata dan semakin ketat. Kita doakan bersama, dengan persiapan matang, perjuangan, dan doa masyarakat, suatu saat Timnas Indonesia bisa lolos ke Piala Dunia, entah lolos kualifikasi atau dengan menjadi tuan rumah," kata Mbah Sapar menutup pandangannya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....