Ekonomi Kalimantan Tangguh Hadapi Karhutla, Ini Kata BI

  • 30 Sep 2026 05:06 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Balikpapan - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Balikpapan menilai fenomena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan yang melanda wilayah Kalimantan tidak berdampak signifikan terhadap kinerja perekonomian makro. Meski aktivitas sosial masyarakat terganggu, sektor-sektor penopang ekonomi utama di Kalimantan Timur maupun Kalimantan secara umum dinilai masih cukup tangguh.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, menjelaskan bahwa berdasarkan kajian internal BI, dampak langsung karhutla terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sangat kecil.

"Secara dampak sosial memang cukup mengganggu kehidupan sehari-hari masyarakat. Namun, berdasarkan kajian kami, dampak karhutla sangat kecil terhadap perekonomian, baik di Kalimantan secara keseluruhan maupun Kalimantan Timur. Pengaruhnya di bawah 0,1 persen, jadi tidak sampai mengganggu pertumbuhan ekonomi makro," ujar Robi Ariadi kepada RRI ditemui usai kegiatan bincang bersama Media pada Selasa, 29 September 2026 malam.

Berdasarkan tinjauan sektoral atau lapangan usaha (LU), efek kekeringan dan karhutla tercatat sangat terbatas. Sektor pertanian hanya terkoreksi sekitar 0,09 persen, sektor pertambangan 0,08 persen, serta sektor industri pengolahan lainnya berkisar antara 0,02 persen hingga 0,04 persen.

Kendati pengaruh karhutla relatif minim, Robi mengingatkan risiko iklim yang bersumber dari El Nino. Fenomena anomali cuaca kering tersebut berpotensi memangkas prospek pertumbuhan ekonomi di Kalimantan hingga 0,5 persen secara tahunan (year-on-year).

"Kalau bicara El Nino, catatan kami menunjukkan adanya potensi penurunan prospek pertumbuhan ekonomi Kalimantan sebesar 0,5 persen per tahun. Secara keseluruhan angka makro Kalimantan terkoreksi sebesar itu, meski kondisinya secara umum masih relatif aman," kata Robi.

Penurunan akibat El Nino paling terasa pada rantai distribusi dan logistik. Menipisnya debit air sungai menghambat jalur transportasi tongkang batu bara, sehingga aktivitas logistik komoditas tersebut diperkirakan menyusut hingga 33 persen. Sektor transportasi air secara umum juga tertekan sekitar 38 persen.

Sementara itu, pada sektor pertanian pangan, produksi gabah kering giling (GKG) berisiko turun hingga 17,7 persen dari proyeksi awal akibat ancaman puso atau gagal panen.

Guna memitigasi risiko tersebut agar tidak berlarut, Bank Indonesia bersama pemangku kepentingan (stakeholders) terkait terus mendorong sejumlah langkah strategis adaptasi iklim.

"Kami mendorong penguatan tata kelola air terpadu, intensifikasi pemeliharaan area gambut oleh korporasi, serta pembangunan sekat kanal. Selain itu, penting juga memperkuat pemberdayaan masyarakat peduli api di tingkat desa agar dampaknya ke depan tidak mengganggu stabilitas ekonomi daerah," ujar Robi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....