Belmawa Dorong Teknologi KRTI Menjawab Kebutuhan Kebencanaan
- 21 Sep 2026 20:39 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Nusantara – Teknologi wahana terbang tanpa awak yang dikembangkan mahasiswa melalui Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2026 dinilai memiliki peran strategis dalam membantu penanganan bencana dan kebutuhan kemanusiaan di Indonesia.
Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Dr. Beny Bandanadjaja, mengatakan kemampuan teknologi tersebut untuk menjangkau wilayah luas dan sulit diakses membuat inovasi mahasiswa memiliki manfaat yang melampaui arena kompetisi.
Pernyataan itu disampaikan Beny secara daring melalui layar dalam pembukaan KRTI 2026 di Gedung Kemenko 3, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN, Senin, 21 September 2026. Ia tidak dapat hadir secara langsung karena harus mengikuti agenda lain.
“Saya mohon maaf karena tidak dapat hadir secara langsung karena ada agenda lain yang tidak dapat saya tinggalkan,” ujar Beny.
Meski tidak hadir di lokasi, Beny mengaku dapat merasakan antusiasme para finalis yang berkumpul di Ibu Kota Nusantara. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Institut Teknologi Kalimantan (ITK) sebagai tuan rumah, Otorita IKN, panitia, dewan juri, dan seluruh pihak yang mendukung penyelenggaraan KRTI 2026.
Menurut Beny, konteks penyelenggaraan KRTI tahun ini menjadi semakin penting karena Indonesia menghadapi berbagai situasi darurat dan bencana. Ia menyebut kebakaran hutan, musibah di laut, hingga gempa bumi sebagai contoh kondisi yang membutuhkan dukungan teknologi untuk mempercepat penanganan di lapangan.
“Teknologi yang dikembangkan melalui KRTI ini memiliki arti yang sangat krusial,” katanya.
Beny menjelaskan, wahana terbang tanpa awak memiliki kemampuan untuk memetakan wilayah dalam cakupan luas, menjangkau titik-titik evakuasi yang sulit, serta memantau kondisi lapangan dari udara. Kemampuan tersebut dapat membantu petugas memperoleh gambaran kondisi wilayah tanpa harus langsung masuk ke lokasi yang berisiko.
Ia menilai kemampuan seperti itu membuat teknologi yang dikembangkan mahasiswa tidak seharusnya dipandang hanya sebagai objek perlombaan. Menurutnya, inovasi tersebut berpotensi menjadi bagian dari solusi dalam penanggulangan bencana dan kegiatan kemanusiaan.
“Wahana terbang tanpa awak yang mampu memetakan wilayah luas, menjangkau titik-titik evakuasi yang sulit, dan memantau kondisi lapangan dari udara, bukan sekadar objek perlombaan,” ucapnya.
Bagi mahasiswa, situasi tersebut membuka ruang agar kemampuan merancang dan mengembangkan teknologi diarahkan pada persoalan yang dihadapi masyarakat. Teknologi pemetaan udara, misalnya, dapat membantu memberikan informasi awal mengenai kondisi suatu wilayah sebelum tim melakukan penanganan lebih lanjut.
Beny menilai proses mahasiswa merancang dan mengembangkan teknologi dalam KRTI memiliki nilai strategis karena membangun kemampuan sumber daya manusia sekaligus menghasilkan gagasan yang dapat dikembangkan untuk kebutuhan nasional.
“Apa yang dilakukan oleh mahasiswa, merancang di ajang ini, memiliki nilai strategis yang jauh melampaui sekadar kompetisi,” ujarnya.
KRTI 2026 mempertemukan 94 tim dari 43 perguruan tinggi pada babak final dengan lima divisi perlombaan, yaitu Racing Plane, Fixed Wing, Vertical Take-Off and Landing (VTOL), Technology Development, serta Long Endurance Low Altitude (LELA).
Selain kemampuan teknis, Beny meminta peserta menjadikan kompetisi sebagai ruang pembelajaran dan kolaborasi. Ia juga mengingatkan peserta untuk mengutamakan keselamatan selama seluruh tahapan perlombaan.
“Kami berpesan agar senantiasa menjunjung tinggi sportivitas, mengutamakan keselamatan, serta menjadikan ajang ini sebagai ruang kolaborasi dan pembelajaran bersama,” katanya.
Pesan tersebut penting karena pengembangan wahana udara tanpa awak tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menerbangkan perangkat, tetapi juga membutuhkan perancangan sistem, pengujian, ketelitian, serta kemampuan bekerja dalam tim.
Beny juga memberikan kepercayaan kepada dewan juri untuk melakukan penilaian secara objektif terhadap seluruh peserta. Ia berharap kompetisi menghasilkan karya yang tidak hanya menunjukkan kreativitas mahasiswa, tetapi juga memiliki arah pengembangan yang bermanfaat bagi Indonesia.
KRTI 2026 berlangsung pada 21–25 September 2026 di IKN dan ITK Balikpapan. Penyelenggaraan di IKN mempertemukan inovasi mahasiswa dengan kawasan yang sedang dikembangkan sebagai kota masa depan, sekaligus memberikan konteks baru bagi pengembangan teknologi tanpa awak untuk kebutuhan lingkungan, kebencanaan, pemetaan, dan berbagai kepentingan publik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....