Erupsi Anak Krakatau Berdampak pada Penerbangan, Enam Bandara Ditutup sementara

  • 07 Sep 2026 12:42 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Jakarta - Erupsi Gunung Anak Krakatau memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas penerbangan di sejumlah wilayah. Otoritas bandara bersama Kementerian Perhubungan dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memantau pergerakan abu vulkanik yang berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan.

Dalam konferensi pers yang digelar pada Minggu 6 September 2026 pukul 13.00 WIB, pemerintah mengungkapkan bahwa enam bandara masih ditutup sementara akibat sebaran abu vulkanik. Kementerian Perhubungan memastikan pemantauan kondisi penerbangan dilakukan secara berkala dan informasi terbaru akan diperbarui setiap empat jam.

Dikutip dari laman bnpb.go.id, Senin 7 September 2026, enam bandara yang terdampak meliputi Bandara Soekarno-Hatta dan Budiarto di Tangerang, Bandara Pondok Cabe di Tangerang Selatan, Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta Timur, Bandara Raden Inten II di Lampung, serta Bandara Husein Sastranegara di Bandung.

Secara terpisah, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyampaikan Bandara Husein Sastranegara ditutup sementara setelah dilakukan pengecekan kondisi wilayah bandara. Penutupan diberlakukan pada Sabtu 6 September 2026 pukul 12.00 WIB sebagai langkah antisipasi terhadap risiko yang ditimbulkan oleh abu vulkanik.

"Kementerian Perhubungan mengedepankan aspek keselamatan dan keamanan penerbangan. Pihak maskapai tidak memaksakan penerbangan apabila kondisi tidak memungkinkan," ujar Dudy.

Sementara itu, sektor transportasi laut dilaporkan belum mengalami dampak signifikan akibat erupsi. Kementerian Perhubungan menyatakan bahwa aktivitas penyeberangan di Selat Sunda masih dapat berlangsung normal. Meski demikian, otoritas pelabuhan diminta tetap meningkatkan kewaspadaan serta terus memperbarui informasi terkait keselamatan pelayaran.

Menteri Perhubungan juga mengingatkan pentingnya penggunaan masker bagi penumpang kapal laut untuk menjaga kesehatan di tengah kemungkinan paparan abu vulkanik.

"Untuk penyeberangan tidak terlalu berdampak, namun kondisi terkait keamanan dan keselamatan harus tetap diperhatikan," katanya.

Di sisi lain, status aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebut aktivitas vulkanik masih tergolong tinggi sehingga pemantauan dan evaluasi terus dilakukan secara intensif.

PVMBG menetapkan zona aman berada di luar radius tiga kilometer dari kawah aktif. Penetapan tersebut didasarkan pada berbagai indikator aktivitas gunung api, termasuk perubahan morfologi dan jangkauan material vulkanik yang terlontar dari puncak gunung.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat agar tetap tenang, waspada, dan siap siaga terhadap potensi ancaman erupsi. Masyarakat juga diminta tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi yang dapat menimbulkan kepanikan.

BNPB menegaskan bahwa perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dapat dipantau melalui sumber resmi pemerintah, seperti BNPB, PVMBG, BMKG, maupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....