Ada Api di IKN, Polisi Minta Warga Segera Melapor

  • 03 Sep 2026 10:58 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Nusantara – Kepulan asap atau nyala api di tengah lahan kering mungkin terlihat kecil dari kejauhan, tetapi dalam hitungan waktu dapat berkembang menjadi kebakaran yang sulit dikendalikan.

Karena itu, Polresta Kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) meminta masyarakat segera melaporkan setiap temuan karhutla agar petugas dapat bergerak sedini mungkin.

Hal tersebut disampaikan Kapolresta Kawasan IKN Kombes Pol Supriyanto setelah apel kesiapsiagaan penanganan karhutla di kawasan IKN, Kamis, 3 September 2026.

Menurut Supriyanto, masyarakat dapat menyampaikan laporan kepada posko yang disiapkan Polresta Kawasan IKN. Posko tersebut menjadi bagian dari koordinasi bersama yang melibatkan unsur pemerintah, TNI-Polri, masyarakat, dan perusahaan di sekitar kawasan.

“Apabila ada masyarakat yang melaporkan, kami segera datang. Di posko itu terdapat unsur terkait dari kami, TNI, Polri, masyarakat, pemerintah termasuk camat, dan perusahaan yang ada di sini,” ujarnya kepada rri.co.id.

Keberadaan posko tersebut menjadi penting karena penanganan karhutla tidak hanya mengandalkan laporan dari patroli. Informasi langsung dari masyarakat di sekitar lokasi dapat menjadi sumber peringatan awal ketika api mulai terlihat.

Supriyanto mengatakan petugas juga melakukan patroli dan pemantauan berdasarkan informasi titik panas atau hotspot. Setiap informasi yang masuk akan ditindaklanjuti untuk memastikan kondisi di lapangan.

Kesiapsiagaan ini dilakukan ketika ancaman karhutla masih nyata di wilayah sekitar IKN. Sehari sebelumnya, petugas gabungan menangani kebakaran lahan di Desa Sukomulyo, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara.

Lahan yang terbakar dalam kejadian tersebut diperkirakan mencapai sekitar 100 hektare. Tiga titik api terpantau dan berhasil dipadamkan menggunakan mesin pompa air serta selang pemadam.

Penanganan kemudian dilanjutkan dengan pendinginan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan bara yang masih tersisa tidak kembali memunculkan api dan menjalar ke bagian lahan lainnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla bukan hanya persoalan ketika kobaran sudah membesar. Kecepatan menemukan titik api menjadi bagian penting untuk mempersempit ruang bagi api agar tidak berkembang.

Otorita IKN sebelumnya juga telah menyiapkan mekanisme pelaporan melalui aplikasi IKNOW. Masyarakat di wilayah delineasi IKN dapat menggunakan fitur panic button untuk melaporkan kondisi darurat, termasuk indikasi kebakaran, yang diteruskan secara waktu nyata kepada petugas di Nusantara Command Center.

Dari sisi kondisi lingkungan, kewaspadaan memang perlu dipertahankan. Otorita IKN menyebut musim kemarau 2026 berpotensi meningkatkan risiko kekeringan dan karhutla, sementara titik panas sepanjang tahun terpantau antara lain di wilayah Sepaku, Samboja, Muara Jawa, dan sekitar Mentawir.

Bahkan, pada akhir Agustus, BMKG bersama Otorita IKN, BNPB, TNI AU, dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melakukan operasi modifikasi cuaca sebagai salah satu langkah menghadapi defisit air dan ancaman karhutla.

Di tengah kondisi tersebut, masyarakat menjadi bagian penting dalam sistem peringatan dini. Warga yang berada paling dekat dengan lahan terbuka, kawasan hutan, maupun area rawan kebakaran dapat menjadi pihak pertama yang melihat perubahan kondisi di lapangan.

Namun, laporan masyarakat tidak serta-merta berarti seseorang telah menjadi pelaku. Hingga saat ini, Polresta Kawasan IKN belum menetapkan tersangka terkait kebakaran yang sedang ditangani.

Supriyanto mengatakan proses penyelidikan masih berjalan untuk mencari penyebab kebakaran. Polisi juga masih mengumpulkan informasi mengenai potensi terjadinya kebakaran di wilayah hukum Polresta Kawasan IKN.

“Untuk hingga saat ini kita belum menentukan. Masih dalam upaya lidik terhadap potensi terjadinya kebakaran yang ada di wilayah kita, tapi kita belum menentukan ke sana,” katanya.

Ia memastikan potensi kebakaran masih mungkin terjadi ketika kondisi cuaca panas dan kering. Karena itu, langkah pencegahan dilakukan melalui pendekatan preemtif, preventif, dan edukatif kepada masyarakat.

Pesan tersebut menjadi semakin penting karena kawasan IKN memiliki wilayah yang luas dengan karakter lahan dan kawasan berhutan yang membutuhkan pengawasan bersama. Upaya pemadaman akan jauh lebih sulit ketika api sudah terlanjur meluas.

Supriyanto berharap masyarakat tidak melihat karhutla sebagai persoalan pemerintah atau aparat semata. Ketika ada api, informasi dari warga menjadi langkah pertama sebelum personel dan peralatan bergerak menuju lokasi.

“Harapannya ke depan kalau masyarakat bersama pemerintah itu bersatu, saya rasa tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Insyaallah, mudah-mudahan tidak ada api. Kalau tahu ada api, mari kita padamkan bersama-sama,” ujarnya.

Bagi kawasan IKN, kesiapsiagaan menghadapi karhutla pada akhirnya bukan hanya tentang menyiapkan mesin pompa, selang, atau personel pemadam. Yang tidak kalah penting adalah memastikan informasi bergerak lebih cepat daripada api, sehingga setiap titik kebakaran dapat ditangani sebelum berubah menjadi ancaman yang lebih besar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....