Wamenkeu Dorong Pendalaman Pasar Modal untuk Perkuat Pembiayaan Ekonomi
- 12 Agt 2026 08:07 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Jakarta: Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menegaskan pentingnya percepatan pendalaman pasar keuangan nasional sebagai salah satu pilar utama pembiayaan pembangunan Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Juda dalam peringatan Hari Ulang Tahun ke-49 Kebangkitan Pasar Modal Indonesia yang digelar di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin 10 Agustus 2026.
Dalam sambutannya, Juda menekankan pasar modal memiliki peran strategis sebagai katalis pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus sumber pembiayaan yang menjembatani kebutuhan pendanaan korporasi dengan dana masyarakat.
“Pasar modal memegang peran strategis sebagai sumber pembiayaan swasta. Ia adalah jembatan yang menghubungkan kebutuhan pembiayaan korporasi dengan dana masyarakat. Ia adalah sumber pembiayaan yang efisien, transparan, dan berkeadilan,” ujarnya, dikutip dari laman Kementerian Keuangan, Selasa 11 Agustus 2026.
Menurut Juda, Indonesia membutuhkan pasar modal yang semakin dalam, likuid, terpercaya, dan kredibel agar dapat berfungsi secara optimal dalam memfasilitasi investasi sekaligus mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Kinerja pasar modal Indonesia menunjukkan perkembangan positif. Penghimpunan dana tercatat lebih dari Rp125 triliun pada semester I 2026, sementara jumlah investor telah mencapai 28 juta orang.
Meski demikian, Juda mengingatkan seluruh pelaku industri pasar modal agar tidak cepat berpuas diri. Masih diperlukan berbagai upaya untuk memperluas basis investor, menambah keragaman instrumen investasi, meningkatkan likuiditas pasar, serta memperkuat tata kelola.
“Kita perlu terus memperluas basis investor, menambah keragaman instrumennya, meningkatkan likuiditas, serta memperkuat tata kelola pasar modal Indonesia,” katanya.
Wamenkeu juga menyampaikan dukungan terhadap agenda reformasi yang tengah dijalankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI). Reformasi tersebut mencakup penguatan likuiditas, peningkatan transparansi, penguatan tata kelola, serta pendalaman pasar.
Langkah tersebut menjadi bagian dari rencana aksi percepatan reformasi integritas pasar modal Indonesia.
Pada kesempatan yang sama, Juda mengapresiasi peluncuran Exchange-Traded Fund (ETF) Emas. Menurutnya, instrumen tersebut menjadi langkah konkret untuk memperluas pilihan investasi sekaligus memperkuat likuiditas pasar modal nasional.
Kehadiran ETF Emas diharapkan dapat meningkatkan daya saing pasar modal Indonesia di tingkat regional maupun global.
Juda menjelaskan, tren investasi ETF berbasis emas terus meningkat di pasar global. Pada 2025, aset kelolaan ETF emas dunia tercatat mencapai US$559 miliar dengan kepemilikan emas sebanyak 4.025 ton.
Meski demikian, Juda mengingatkan keberhasilan instrumen tersebut sangat bergantung pada tingkat kepercayaan investor. Mengingat ETF Emas didukung aset fisik berupa emas, aspek penyimpanan, valuasi, dan akuntabilitas transaksi harus dijaga secara ketat.
“Inovasi membutuhkan integritas, dan integritas adalah fondasi dari kepercayaan (trust),” katanya.
Lebih lanjut, Juda berharap peluncuran ETF Emas tidak hanya meningkatkan ukuran pasar modal Indonesia, tetapi juga memperkuat kualitasnya agar semakin dalam, inklusif, berhati-hati (prudent), dan kredibel.
Dengan pasar modal yang semakin kuat, kontribusinya terhadap pembiayaan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang diharapkan semakin besar.
Menutup sambutannya, Juda kembali menegaskan pentingnya menjaga kepercayaan sebagai modal utama dalam pengembangan pasar keuangan nasional.
“Pasar yang dalam membutuhkan inovasi. Inovasi membutuhkan integritas. Integritas adalah fondasi dari kepercayaan. Mari kita bersama membangun dan menjaga kepercayaan tersebut,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....