Viral Kasus Yurizal, Psikolog Ungkap Mengapa Orang Mudah Menghujat di Medsos
- 06 Agt 2026 15:11 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Kasus meninggalnya Yurizal Tri Chaerawan usai menerima komentar bernada sinis di media sosial hingga kini masih menuai sorotan publik. Hal itu bermula ketika Yurizal membuat unggahan lewat akun Threads pada Kamis, 23 Juli 2026 yang mengatakan bahwa dirinya tidak kebagian ruangan meski sudah menunggu delapan jam di rumah sakit. Ia juga menyebut dirinya sebagai pasien BPJS.
Alih-alih mendapat simpati, Yurizal justru menerima komentar pedas hingga komentar yang dinilai tidak berempati dari sejumlah akun tenaga kesehatan. Peristiwa tersebut sontak memicu gelombang kritik usai diketahui Yurizal telah meninggal dunia.
Tidak sedikit warganet yang mempertanyakan bagaimana oknum tenaga kesehatan bisa melontarkan komentar tajam terhadap seorang pasien.
Lantas mengapa bisa demikian?
Penyebab mudah menghujat di media sosial
Dosen sekaligus psikolog klinis Universitas 'Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, Yunita Setiyani Subardjo menjelaskan, fenomena menghakimi atau menghujat orang lain di media sosial memang sering terjadi.
"Dari sisi psikologi memang pernah dan bisa dibilang sering terjadi dalam kasus yang berbeda," kata Ratna, saat dihubungi rri.co.id, Rabu, 5 Agustus 2026.
Berdasarkan konsep psikologi, lanjutnya, aksi tersebut bisa disebabkan oleh beberapa hal. Ratna menjelaskan, salah satu penyebabnya adalah fenomena online disinhibition effect yang diperkenalkan oleh psikolog John Suler.
Dalam kondisi ini, seseorang cenderung lebih berani mengeluarkan pendapat di ruang digital karena merasa tidak berhadapan langsung dengan orang lain.
Menurutnya, ketiadaan interaksi tatap muka membuat seseorang tidak bisa melihat ekspresi maupun kondisi emosional orang tersebut. Akibatnya, empati dapat berkurang sehingga seseorang lebih mudah melontarkan penilaian atau komentar yang menyakitkan.
"Di dunia online orang merasa anonim, tidak ketemu langsung, dan ada jeda waktu. Ini bikin rem sosial jadi lepas. Orang jadi lebih berani berkomentar kasar yang di dunia nyata mungkin tidak akan dia lakukan," ucap Ratna.
Penyebab kedua kenapa orang mudah menghujat di media sosial, sambungnya, yaitu dipengaruhi oleh kondisi emosional yang sedang tidak baik-baik saja. Dalam psikologi, istilah itu dikenal sebagai regulasi emosi.
Ratna mengungkapkan, oang yang mudah tersinggung dan menghakimi biasanya sedang mengalami penilaian ulang kognitif (cognitive reappraisal) yang gagal.
"Artinya, ketika baca postingan, emosi pertama yang muncul adalah marah, kesal, defensif. Kalau tidak bisa di-'reappraisal' jadi 'oh mungkin dia sedang sakit dan butuh didengar', maka yang keluar adalah reaksi menyerang," ujar Ratna.
Ia menambahkan, media sosial juga dapat memperkuat fenomena moral outrage dan group polarization. Ketika satu orang mulai menghakimi, pengguna lain cenderung ikut memberikan komentar serupa karena terdorong untuk berada di kelompok yang sama.
"Media sosial memperkuat rasa 'kita vs mereka'. Saat satu orang mulai menghakimi, orang lain ikut karena takut 'tidak satu kubu'. Ini juga bentuk pelepasan frustrasi mereka terhadap sistem kesehatan secara umum, tapi sasarannya ke individu yang lagi curhat," ucap Ratna.
Meski begitu, ia menilai perilaku tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa seseorang itu pribadi yang jahat. Menurutnya, tindakan itu sering kali muncul karena kombinasi emosi sesaat, rendahnya kontrol diri saat berinteraksi di media sosial, serta pengaruh lingkungan digital yang mendorong seseorang mengikuti arus komentar.
"Apalagi merasa sebagai sesama nakes dengan ego yang tinggi, merasa perlu membela teman tanpa melihat kasus senyatanya. Artinya, ini juga menandakan orang itu tidak dewasa secara emosi dalam berkomentar," ujarnya.
Cara agar tidak mudah menghujat di media sosial
Sebagai psikolog, Ratna pun membagikan beberapa cara agar masyarakat lebih bijak saat menggunakan media sosial dan tidak mudah menghakimi orang lain.
Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah memberi jeda sebelum menulis komentar. Ia menyarankan masyarakat tidak langsung bereaksi ketika membaca sebuah unggahan, terutama jika sedang terbawa emosi.
"Sebelum berkomentar, tanyakan pada diri sendiri dulu, apakah ini fakta atau hanya emosi saya? Apakah ini akan membantu atau justru melukai? Jeda seperti ini penting untuk melatih kesabaran dan kesadaran agar tidak menyesal kemudian," kata Ratna.
Selain itu, Ratna mengajak masyarakat untuk belajar melihat dari sudut pandang orang lain. Misalnya, membayangkan jika diri sendiri atau anggota keluarga berada di posisi tersebut. Menurutnya, cara ini dapat membantu menumbuhkan empati sehingga seseorang tidak mudah melontarkan komentar yang menyakiti.
Ia juga mengingatkan, media sosial memang membuat orang lebih mudah bereaksi dengan cepat. Karena itu, jika ada akun atau konten yang terus memicu emosi negatif, tidak ada salahnya memanfaatkan fitur seperti menyembunyikan komentar, membisukan akun, atau berhenti mengikuti akun tersebut.
"Namanya digital literacy emosi. Sadar bahwa medsos dirancang memicu reaksi cepat," ucap Ratna.
Lebih lanjut, ia juga mengimbau masyarakat untuk menyampaikan kritik pada tempat yang tepat. Menurutnya, jika ada kekecewaan terhadap pelayanan rumah sakit, sebaiknya disampaikan melalui jalur pengaduan resmi atau diskusi yang membangun, bukan menyerang orang yang sedang mengalami musibah.
Sementara bagi mereka yang sudah terlanjur ikut menghujat dan menyesal, Ratna mengatakan tidak ada kata terlambat untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf. Namun, ia mengingatkan agar hal serupa tidak terulang karena dapat menyakiti orang lain dan tidak mencerminkan sikap yang baik.
"Rasa bersalah yang sehat bisa melatih kontrol diri ke depan. Meskipun ini tidak boleh juga berulang, karena tidak pada tempatnya dan tidak etis," kata Ratna, mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....