Kemenperin Optimis Produk Furnitur dan Kerajinan Indonesia Tembus Pasar EAEU
- 07 Jul 2026 15:16 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Reni Yanita, menilai peluang pasar Eurasia harus dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku industri manufaktur nasional. Menurutnya, partisipasi Indonesia dalam INNOPROM 2026 menjadi momentum penting untuk memperluas ekspor sekaligus membangun kemitraan bisnis dengan negara-negara di kawasan Eurasian Economic Union (EAEU).
Mengutip laman Sekretariat Kabinet, Selasa 7 Juli 2026, Reni mengatakan produk manufaktur Indonesia memiliki keunggulan yang sulit ditiru karena memadukan identitas budaya yang kuat, keterampilan yang diwariskan lintas generasi, serta kemampuan produksi yang terus berkembang mengikuti standar pasar global.
"INNOPROM 2026 menjadi kesempatan penting untuk memperkenalkan keunggulan produk Indonesia sekaligus membangun kemitraan bisnis yang berkelanjutan," ujarnya.
Salah satu sektor yang dinilai memiliki prospek besar di pasar Eurasia adalah furnitur dan kerajinan. Berdasarkan data yang disampaikan Kementerian Perindustrian, nilai pasar furnitur rumah tangga Rusia pada 2024 mencapai sekitar USD12,8 miliar dan diperkirakan tumbuh rata-rata 5,4 persen per tahun hingga 2032.
Pertumbuhan tersebut didorong meningkatnya permintaan terhadap produk premium, desain yang lebih personal, serta penggunaan material ramah lingkungan. Karakteristik tersebut dinilai sejalan dengan keunggulan produk furnitur dan kerajinan Indonesia yang mengedepankan kualitas, desain, dan nilai budaya.
Kinerja ekspor sektor kerajinan nasional juga menunjukkan tren positif. Data Direktorat Jenderal IKMA mencatat nilai ekspor produk kerajinan Indonesia sepanjang 2025 mencapai USD806,63 juta, meningkat 15,46 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara pada triwulan I 2026, nilai ekspor kerajinan mencapai USD165,27 juta, atau naik 4,08 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Di sektor furnitur, nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari–Desember 2025 tercatat mencapai USD1,84 miliar. Amerika Serikat masih menjadi tujuan utama dengan pangsa pasar sekitar 53,3 persen dari total ekspor furnitur nasional. Pada triwulan I 2026, nilai ekspor furnitur kembali meningkat menjadi USD458,56 juta, dengan Amerika Serikat tetap menjadi pasar terbesar yang menyerap hampir 55 persen ekspor furnitur Indonesia.
Untuk memperluas akses ke pasar Eurasia, Indonesia membawa enam perusahaan yang mewakili berbagai subsektor manufaktur bernilai tambah dalam ajang INNOPROM 2026. Perusahaan tersebut adalah CV Batik Teknologi Indonesia dengan produk batik dan mesin batik, PT Techno GIS Indonesia yang menawarkan layanan survei geospasial, PT Karya Solusi Angkasa dengan teknologi drone, PT Nestra Kottama Indonesia melalui produk specialty coffee, PT Khadija Kriya Abadi dengan produk dekorasi rumah, serta Apikmen Tandangawe Sempurno yang menampilkan produk fesyen dan tekstil.
Kementerian Perindustrian berharap keikutsertaan perusahaan-perusahaan tersebut dapat memperluas pasar ekspor, meningkatkan daya saing industri manufaktur nasional, serta membuka peluang investasi dan kerja sama baru di kawasan Eurasia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....