Wadai hingga Umbut Sawit Warnai Tradisi Buka Puasa Warga Banjar di Samarinda
- 16 Mar 2026 14:10 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Bulan suci Ramadan di Samarinda selalu identik dengan semarak kuliner tradisional, khususnya masakan dan kudapan (wadai) khas Banjar yang menjadi buruan warga menjelang waktu berbuka. Dalam dialog interaktif Pantas Banjar di RRI Samarinda pada hari Jumat, 6 Maret 2026, terungkap bahwa hidangan otentik seperti Amparan Tatak masih menjadi primadona yang menghiasi meja makan masyarakat di Kalimantan Timur.
Menu berbuka puasa bagi masyarakat Banjar biasanya dimulai dengan sajian yang manis. Wadai seperti Amparan Tatak, Sari Muka, dan Bingka menjadi pilihan utama karena teksturnya yang lembut dan rasa manisnya yang mampu memulihkan energi. Acil Mila menuturkan bahwa kudapan tradisional ini memiliki daya tarik tersendiri yang sulit digantikan oleh menu modern.
"Buka puasa itu biasanya Mihun tidak ketinggalan, sama kudapan seperti Sari Muka yang bawahnya ketan dan atasnya coklat manis. Itu sudah menjadi pelengkap yang kurang rasanya kalau tidak ada," ujar Acil Mila saat berbagi pengalaman kulinernya dalam program tersebut.
Selain takjil, menu masakan berat juga menjadi sorotan utama. Keunikan kuliner Banjar terlihat dari keberanian mengolah bahan alam yang segar, salah satunya adalah pemanfaatan bagian dalam batang pohon kelapa atau sawit yang dikenal dengan sebutan umbut. Bahan ini biasanya diolah dengan bumbu santan yang gurih dan dipadukan dengan ikan sungai.
Julak Amay, salah satu pendengar setia, menceritakan kegemarannya mengolah bahan tersebut sebagai menu utama berbuka. "Umbut sawit pakai ikan Baung yang bersalai itu, dimasak santan pakai labu. Itu sudah menu yang sangat nyaman untuk berbuka," ucap Julak Amay. Menurutnya, penggunaan ikan asap memberikan aroma dan cita rasa yang lebih dalam pada masakan sayur tersebut.
Tak hanya masakan bersantan, masyarakat Banjar juga sangat menggemari menu ikan air tawar seperti Biawan dan Sepat. Ikan-ikan ini biasanya digoreng garing dan disajikan bersama sambal atau cacapan asam yang segar. Kombinasi rasa pedas, asam, dan gurih ini dianggap sangat membangkitkan selera makan setelah seharian menahan lapar.
Tradisi kuliner ini bukan sekadar urusan pemuas rasa, melainkan juga sarana pengobat rindu bagi warga Banjar di perantauan. Menikmati masakan khas daerah saat Ramadan memberikan suasana hangat kekeluargaan yang kental, meskipun jauh dari tanah kelahiran.
Sebagai penutup, diskusi dalam program tersebut menekankan pentingnya menjaga resep-resep tradisional ini agar tidak punah. Di tengah gempuran tren makanan kekinian, masakan dan wadai khas Banjar terbukti tetap menjadi primadona yang selalu dinanti kehadirannya setiap kali azan magrib berkumandang di bulan suci.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....