Pesona Kue Talam Banjar, Wadai Basah Penanda Ramadan

  • 10 Jan 2026 18:03 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda: Menjelang bulan suci Ramadan, suasana kebersamaan dan nostalgia kuliner kembali terasa hangat di tengah masyarakat Banjar. Salah satu yang selalu dirindukan adalah wadai basah khas Banjar, khususnya kue talam.

Wadai sederhana berbahan dasar tepung beras, santan, dan gula ini bukan sekadar panganan, melainkan bagian dari ingatan kolektif, tradisi, dan kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi.

Dalam Program Pesona Antar Komunitas Banjar bersama Acil Ewwi, membahas kue talam Banjar menjelang Ramadan. Dialog hangat bersama para pendengar dari berbagai daerah, bahkan lintas provinsi, memperlihatkan betapa kue talam menjadi pengikat rasa dan budaya Banjar.

Dalam perbincangan tersebut, Acil Ewi menjelaskan kue talam dikenal sebagai wadai kukus yang lembut, dengan lapisan bawah dan atas yang memiliki cita rasa khas. Umumnya, bagian bawah terbuat dari ubi, ketan, labu kuning, atau singkong, sementara lapisan atasnya berupa adonan santan, tepung beras, dan gula, termasuk gula merah.

"Beberapa variasi juga menggunakan pandan sehingga menghasilkan warna hijau alami yang menggugah selera," ujarnya.

Sejumlah pendengar turut berbagi cerita. Julak Hamzah dari Jambi misalnya, menyampaikan di daerahnya terdapat kue serupa dengan nama berbeda, menggunakan nasi pulut sebagai dasar. Hal ini menunjukkan, kue talam tidak hanya hidup dalam budaya Banjar, tetapi juga memiliki persinggungan dengan tradisi kuliner Nusantara lainnya.

Diskusi semakin menarik ketika para pendengar berbagi tips memasak. Mulai dari penggunaan kayu api agar aroma lebih harum, pemilihan santan kelapa gading untuk rasa yang lebih gurih, hingga pemilihan air yang bersih dan dimasak terlebih dahulu demi menjaga kualitas rasa dan ketahanan kue.

"Mengolah sendiri kue talam memberi kepuasan tersendiri karena kebersihan dan rasanya dapat dijaga," katanya.

Beragam inovasi pun diungkapkan, seperti penggunaan ubi ungu, ubi kuning, hingga labu banjir khas Banjar. Meski sederhana, proses pembuatan kue talam membutuhkan ketelatenan, terutama saat mengolah santan agar tidak pecah. Inilah yang membuat kue talam bukan sekadar kudapan, tetapi juga simbol kesabaran dan cinta dalam mengolah makanan tradisional.

Para pendengar sepakat, kue talam memiliki tempat istimewa di bulan Ramadan. Wadai ini kerap menjadi menu pembuka saat berbuka puasa, dijual di pasar Ramadan, atau diolah sendiri di rumah untuk keluarga. Tanpa kue talam, bagi sebagian orang Banjar, buka puasa terasa belum lengkap.

Melalui dialog interaktif ini, Program Pesona Antar Komunitas Banjar kembali menegaskan bahwa kue talam bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang tradisi, kebersamaan, dan identitas budaya Banjar yang terus hidup dan diwariskan dari dapur ke dapur, dari cerita ke cerita, terutama menjelang bulan penuh berkah, Ramadan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....