Nasi Kuning dalam Tradisi Nusantara

  • 21 Des 2025 22:26 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda: Nasi kuning merupakan salah satu kuliner tradisional Indonesia yang sarat makna simbolik dan nilai budaya. Koentjaraningrat dalam buku Pengantar Ilmu Antropologi mengatakan, warna kuning yang berasal dari kunyit dimaknai sebagai lambang kemakmuran, harapan, dan keberkahan hidup.

Merujuk dari berbagai sumber, dalam tradisi masyarakat Jawa, nasi kuning kerap disajikan dalam bentuk tumpeng pada berbagai peristiwa penting seperti kelahiran, syukuran, dan peringatan hari besar. Tumpeng nasi kuning dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas keselamatan dan rezeki yang diterima

Makna simbolik nasi kuning juga hidup dalam tradisi masyarakat Kalimantan, termasuk di Kalimantan Timur. Nasi kuning sering dihadirkan dalam acara selamatan keluarga, peringatan keagamaan, dan kegiatan adat sebagai simbol doa agar kehidupan senantiasa diberi cahaya dan keseimbangan.

Di wilayah Kalimantan, khususnya dalam budaya Banjar dan Kutai, nasi kuning disajikan dengan lauk khas seperti ayam masak habang, telur pindang, ikan haruan, serta sambal bercita rasa kuat. Perpaduan tersebut mencerminkan kekayaan kuliner lokal yang menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.

Tradisi penyajian nasi kuning tidak hanya berfungsi sebagai konsumsi pangan, tetapi juga sebagai sarana mempererat hubungan sosial. Proses memasak yang dilakukan secara bersama-sama mencerminkan nilai gotong royong dan kebersamaan yang masih dijaga dalam kehidupan masyarakat Kalimantan.

Selain nilai sosial, nasi kuning menunjukkan kearifan lokal dalam pemanfaatan sumber daya alam. Penggunaan kunyit, santan, dan rempah-rempah mencerminkan pengetahuan tradisional masyarakat Indonesia dalam mengolah bahan pangan yang bernilai gizi dan simbolik.

Di tengah perubahan zaman dan modernisasi, nasi kuning tetap bertahan sebagai bagian dari tradisi yang hidup. Kehadirannya di acara formal, kegiatan adat, hingga sajian harian menunjukkan bahwa kuliner tradisional mampu beradaptasi tanpa kehilangan makna budaya.

Nasi kuning bukan sekadar hidangan, melainkan representasi identitas budaya dan nilai spiritual masyarakat Indonesia. Melalui tradisi ini, pesan tentang rasa syukur, kebersamaan, dan penghormatan terhadap warisan leluhur terus diwariskan lintas generasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....