Cemilan Khas Minangkabau
- 13 Apr 2025 08:58 WIB
- Samarinda
KBRN, Samarinda : Ranah Minang, Sumatera Barat, dikenal bukan hanya karena alamnya yang memesona, tetapi juga karena kekayaan kulinernya yang unik dan sarat makna budaya. Ciri khas masakan Minang terletak pada penggunaan rempah-rempah yang melimpah, memberikan sensasi rasa yang kuat dan menghangatkan tubuh—sangat cocok dengan kondisi geografis Minangkabau yang berada di dataran tinggi berhawa sejuk.
Ketika melancong ke Sumatera Barat, belum lengkap rasanya jika belum mencicipi jajanan tradisional khas Minangkabau. Ragamnya pun berlimpah dari yang manis, gurih, legit, hingga pedas.
Dalam Program Acara "Pesona Antar Komunitas Minang" yang disiarkan oleh Pro 4 RRI Samarinda, Uda Men, salah satu pengisi acara, mengungkapkan bahwa banyak kuliner Minangkabau yang berkaitan erat dengan tradisi dan budaya lokal. Salah satunya adalah lamang tapai, yakni lemang yang disajikan dengan tapai.
“Lamang tapai itu rasanya enak, gurih dan manis. Ada juga rasa fermentasi dan sedikit asam dari tapai, teksturnya kenyal dan lembut dari lamang berpadu dengan kelembutan serta kelengketan tapainya,” jelas Uda Men. Ia juga menambahkan bahwa tradisi membuat lamang ini biasanya dilakukan sebelum bulan Ramadan, tepatnya di bulan Syaban, sebagai bentuk mempererat tali kekeluargaan.
Sementara itu, Uni Niar, pengisi acara lain dalam program tersebut, menyebutkan bahwa tradisi ini masih terus dilestarikan oleh masyarakat Minangkabau hingga saat ini.
Tak kalah menarik adalah sala lauak atau sala ikan, gorengan khas Pariaman yang juga populer di Padang. “Terbuat dari tepung beras yang diaduk dengan berbagai bumbu khas Minang, lalu ditambahkan ikan asin sebagai penyedap rasa. Adonannya dibentuk bulat, lalu digoreng dan disantap selagi hangat,” ujar Uni Yet, salah satu pengisi acara.
Tekstur sala lauak yang renyah di luar dan lembut di dalam menjadikannya jajanan favorit, terutama cemilan ini mudah ditemukan pasar-pasar tradisional daerah pesisir.
Selain itu, ada juga jajanan hasil akulturasi budaya, yakni lapek bugi. Makanan ringan ini diyakini berasal dari Bugis, Sulawesi Selatan, namun telah lama menjadi bagian dari kekayaan kuliner Minang. “Lapek bugi dibuat dari ketan dengan isian kelapa parut, gula merah atau gula putih, lalu dibungkus daun pisang. Rasanya manis, gurih, dan kenyal,” ungkap Uni Yet.
Tak ketinggalan, Uda Men juga memperkenalkan lompong sagu, jajanan tradisional yang dibuat dari tepung sagu, kelapa muda parut, dan gula merah, kemudian dicetak dan dimasak seperti pizza. Perpaduan rasa manis dan gurih serta tekstur kelapa muda membuat makanan ini digemari banyak orang.
Menariknya, gula merah yang digunakan dalam banyak jajanan Minang ini sebagian besar berasal dari Lawang, Bukittinggi. Di sana, gula merah dibuat dari air tebu yang diputar dengan tenaga kerbau, kemudian dimasak hingga mengental dan menjadi gula batangan.
Kuliner Minangkabau bukan hanya soal rasa, tapi juga cerita. Setiap makanan menyimpan jejak sejarah, budaya, dan kehangatan yang menjadikannya bagian penting dari identitas masyarakat Minang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....