Skizofrenia dan Cara Penanganannya
- 04 Jul 2024 12:12 WIB
- Samarinda
KBRN, Samarinda : Skizofrenia merupakan salah satu gangguan jiwa berat yang ditandai dengan adanya distorsi proses pikir, kesulitan menilai realitas yang dapat mempengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku individu. Hal itu disampaikan dr. Nurulita, Sp. KJ kepada RRI saat dialog dokter etam, di Programa 4, Kamis (4/7/2024).
Ia menjelaskan, dalam mendiagnosis skizofrenia, terdapat kriteria yang harus dipenuhi. Menurut (Pedoman Penggolongan dan Diagnosa Gangguan Jiwa) PPDGJ III, setidaknya ada satu gejala dalam kriteria amat jelas dan dua atau lebih gejala yang kurang jelas.
- Thought echo, insertion or withdrawal, dan broadcasting
- Delusion of control, influence, passivity, dan perception
- Halusinasi Auditorik
- Waham-waham menetap jenis lainnya,
Atau 2 gejala atau lebih jenis lainnya yang menetap
- Halusinasi jenis lainnya
- Gangguan arus pikirr
- Gangguan perilaku (gaduh gelisah, katatonik)
Gejala tersebut berlangsung selama minimal 1 bulan lamanya disertai adanya penurunan GAF (Global Assessment of Functioning).

“Adapun keluhan yang paling sering muncul pada penderita skizofrenia seperti keluhan gelisah, bicara sendiri, bicara melantur, mendengar suara bisikan tanpa sumber, melihat bayangan tanpa sumber, meyakini sedang ada ancaman, dan dikejar,” lanjutnya.
Hingga saat ini, penyebab skizofrenia belum diketahui secara pasti. Beragam faktor seperti faktor genetik, coping mechanisme, faktor resiliensi, faktor kepribadian dan faktor psikososial dan lingkungan diduga ikut berperan.
Ada beberapa jenis skizofrenia yang dikenal, seperti: Skizofrenia Paranoid, Skizofrenia katatonik, Skizofrenia hebefrenik, Skizofrenia tak terinci, Skziofrenia residual dan Depresi pasca skizofrenia.
Berikut hal yang perlu dilakukan keluarga jika ada angota keluarga memiliki gejala skizofrenia.
- Segera datang dan memeriksakan ke Psikiater untuk melakukan pengobatan dan perawatan.
- Melakukan perlindungan diri terhadap pasien dan keluarga dirumah, meminta bantuan petugas setempat
“Disini peran keluarga sangat diperlukan. Mendampingi dan mengawasi selama pengobatan dirumah, Memberikan aktivitas dan kegiatan bagi pasien, Mengenali tanda dan gejala kekambuhan pada pasien, Memberikan support dan semangat selama pengobatan,” tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....