Stres Berkepanjangan Bisa Ganggu Kesehatan Gigi dan Mulut

  • 07 Okt 2026 06:42 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Stres tidak hanya memengaruhi kondisi pikiran dan tubuh secara keseluruhan, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan gigi dan mulut. Tekanan yang berlangsung dalam waktu lama dapat memicu perubahan kebiasaan maupun kondisi tubuh yang akhirnya memengaruhi kesehatan rongga mulut.

Saat mengalami stres, seseorang terkadang tanpa sadar melakukan kebiasaan tertentu, seperti menggertakkan atau mengatupkan gigi, menggigit kuku, hingga mengabaikan rutinitas menjaga kebersihan gigi dan mulut. Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko berbagai masalah, mulai dari nyeri rahang hingga gangguan pada gigi dan gusi.

Dilansir dari Hindustan Times, Selasa 6 Oktober 2026, pendiri Dr. Sabadra’s Dental Care Centre, Prafull Sabadra, menjelaskan tekanan berkepanjangan dapat memberikan dampak cukup luas terhadap kesehatan gigi dan mulut. Selain memicu kebiasaan tertentu, stres juga dapat berkaitan dengan sejumlah gangguan yang perlu diperhatikan.

Menggertakkan Gigi atau Bruxism

Stres dapat memicu kebiasaan menggertakkan atau mengatupkan gigi secara tidak sadar, terutama saat tidur. Kondisi yang dikenal sebagai bruxism ini dapat terjadi karena kecemasan dan ketegangan meningkatkan aktivitas otot rahang sehingga gigi menerima tekanan lebih besar.

Jika berlangsung dalam jangka panjang, bruxism dapat menyebabkan berbagai masalah pada gigi dan rahang. Tekanan berulang dapat membuat gigi mengalami keausan, retak, bahkan patah. Enamel yang terkikis juga dapat membuat gigi menjadi lebih sensitif dan rentan mengalami kerusakan.

Selain itu, kebiasaan menggertakkan gigi dapat memicu nyeri rahang serta gangguan pada sendi temporomandibular atau TMJ.

Mulut Kering Akibat Stres

Stres berkepanjangan juga dapat memengaruhi produksi air liur. Ketika tubuh berada dalam kondisi tertekan, sistem saraf dapat memengaruhi kerja kelenjar ludah sehingga produksi air liur berkurang. Kondisi mulut kering atau xerostomia juga dapat diperburuk oleh beberapa jenis obat, termasuk obat untuk mengatasi kecemasan dan depresi.

Padahal, air liur memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan rongga mulut. Berkurangnya produksi air liur dapat meningkatkan risiko kerusakan gigi karena proses pembersihan alami di dalam mulut ikut berkurang.

Mulut kering juga dapat meningkatkan risiko gangguan gusi dan infeksi serta menimbulkan rasa tidak nyaman saat mengunyah, menelan, atau berbicara.

Mengabaikan Kebersihan Gigi dan Mulut

Tekanan psikologis yang berlangsung lama dapat membuat seseorang kurang memperhatikan kebersihan diri, termasuk kesehatan gigi dan mulut. Ketika mengalami stres, rutinitas seperti menyikat gigi atau membersihkan sela-sela gigi dapat terabaikan.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko munculnya berbagai masalah pada gigi dan gusi. Stres juga dapat mendorong perubahan pola makan. Sebagian orang cenderung mengonsumsi makanan atau minuman tinggi gula maupun bersifat asam ketika sedang mengalami tekanan.

Kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko kerusakan gigi. Penggunaan produk tembakau atau konsumsi alkohol sebagai cara untuk mengatasi stres juga dapat memperburuk kondisi kesehatan mulut.

Respons Imun Dapat Melemah

Stres berkepanjangan dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh. Kondisi tersebut dapat membuat jaringan gusi lebih rentan mengalami peradangan maupun infeksi.

Masalah yang dapat muncul antara lain gingivitis dan periodontitis, terutama jika kebersihan gigi dan mulut tidak terjaga dengan baik. Stres juga dapat memengaruhi proses pemulihan tubuh sehingga penyembuhan setelah tindakan medis, cedera, atau gangguan pada jaringan mulut dapat berlangsung kurang optimal.

Gangguan Tidur

Stres juga kerap membuat kualitas tidur terganggu. Kesulitan tidur atau waktu istirahat yang tidak cukup dapat memberikan dampak tidak langsung terhadap kesehatan gigi dan mulut.

Salah satunya adalah memperburuk kebiasaan bruxism yang sering terjadi tanpa disadari ketika tidur. Kurangnya waktu tidur juga dapat mengganggu proses pemulihan tubuh.

Karena itu, menjaga pola tidur yang cukup menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga kesehatan secara keseluruhan, termasuk kesehatan jaringan di dalam rongga mulut.

Hormon Stres dan Kesehatan Mulut

Peningkatan hormon stres, termasuk kortisol, dapat memengaruhi kemampuan tubuh dalam menghadapi peradangan dan infeksi. Dalam kondisi stres yang berlangsung lama, perubahan tersebut dapat ikut meningkatkan risiko gangguan kesehatan pada gusi dan jaringan pendukung gigi.

Selain faktor fisiologis, stres juga dapat memunculkan kebiasaan yang berpotensi merusak gigi. Misalnya, menggigit kuku, mengunyah pulpen, atau menggunakan gigi untuk membuka kemasan.

Jika dilakukan berulang kali, kebiasaan tersebut dapat memberikan tekanan pada gigi dan berisiko menyebabkan kerusakan enamel.

Cara Menjaga Kesehatan Gigi Saat Stres

Untuk mengurangi dampak stres terhadap kesehatan gigi dan mulut, Dr. Prafull Sabadra menyarankan penerapan berbagai langkah untuk mengelola stres. Aktivitas seperti mindfulness, meditasi, atau yoga dapat menjadi bagian dari upaya tersebut.

Jika stres atau masalah kesehatan mental berlangsung terus-menerus dan mengganggu aktivitas sehari-hari, bantuan dari tenaga profesional juga dapat dipertimbangkan.

Sementara untuk menjaga kesehatan mulut, kebiasaan dasar tetap perlu dilakukan secara konsisten. Di antaranya menyikat gigi dua kali sehari, membersihkan sela-sela gigi dengan benang gigi, serta menggunakan pasta gigi yang mengandung fluoride.

Memastikan tubuh tetap terhidrasi juga dapat membantu ketika mengalami keluhan mulut kering. Konsumsi makanan dan minuman tinggi gula serta makanan yang terlalu asam sebaiknya dibatasi.

Pilihan makanan yang lebih bernutrisi dapat membantu menjaga kesehatan tubuh dan gigi. Pemeriksaan rutin ke dokter gigi juga penting untuk mengetahui kondisi gigi dan gusi sekaligus mendapatkan perawatan yang sesuai jika ditemukan masalah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....