Anak Sering Amandel, Gangguan Tidur Bisa Jadi Penyebabnya
- 02 Okt 2026 15:44 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Amandel yang sering bermasalah pada anak tidak selalu berhenti pada keluhan sakit tenggorokan dan demam. Penelitian ilmiah menunjukkan pembesaran tonsil atau amandel juga dapat berkaitan dengan gangguan pernapasan saat tidur. Kondisi ini dapat membuat anak mendengkur, tidur gelisah, bernapas melalui mulut, bahkan mengalami jeda napas ketika tidur.
Tonsil merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh yang berada di belakang tenggorokan. Pada anak, jaringan tonsil dan adenoid relatif aktif sehingga dapat membesar ketika menghadapi paparan infeksi. Namun, ketika ukurannya terlalu besar, ruang saluran napas dapat menyempit. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat memicu sleep-disordered breathing atau gangguan pernapasan saat tidur.
Temuan menarik datang dari penelitian yang diterbitkan dalam The Laryngoscope pada 2025. Peneliti menganalisis 32 penelitian dengan total 9.430 anak yang mengalami gangguan pernapasan saat tidur. Hasil tinjauan menunjukkan pengangkatan sebagian tonsil maupun seluruh tonsil sama-sama dapat memperbaiki gejala, dengan perbedaan pada masa pemulihan dan risiko kekambuhan.
Persoalannya, tanda gangguan tersebut sering tidak disadari orang tua. Dengkuran anak, misalnya, kerap dianggap sebagai kebiasaan tidur biasa. Padahal, jika terjadi hampir setiap malam, disertai tidur gelisah, bernapas melalui mulut atau jeda napas, kondisi tersebut perlu diperhatikan. Pedoman American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery juga menempatkan gangguan napas saat tidur sebagai salah satu kondisi penting dalam evaluasi anak dengan pembesaran tonsil.
Anak yang sering mengalami sakit tenggorokan juga belum tentu memiliki daya tahan tubuh yang lemah. Infeksi virus merupakan salah satu penyebab utama tonsilitis, sementara bakteri tertentu juga dapat menyebabkan peradangan. Karena penyebabnya berbeda, penanganan tidak bisa disamakan pada setiap anak. Pemeriksaan tenaga kesehatan diperlukan untuk menentukan apakah keluhan berkaitan dengan infeksi berulang, pembesaran tonsil, atau kondisi lain.
Penelitian lain yang dimuat dalam Pediatrics menunjukkan keputusan melakukan tonsilektomi pada anak dengan infeksi tenggorokan berulang perlu mempertimbangkan frekuensi dan tingkat keparahan episode, dampaknya terhadap aktivitas anak, serta manfaat dan risiko tindakan dibandingkan pemantauan. Dengan demikian, istilah “sering amandel” tidak otomatis berarti anak memerlukan operasi.
Yang menarik, persoalan amandel pada anak sebenarnya dapat terlihat dari perubahan kebiasaan sehari-hari. Anak yang tidurnya sering terganggu dapat terlihat mengantuk pada siang hari, sulit berkonsentrasi atau mengalami perubahan perilaku. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya memperhatikan apakah anak mengalami demam atau sakit ketika menelan, tetapi juga mengamati bagaimana pola tidurnya.
Orang tua dapat mencatat kapan keluhan muncul, berapa lama berlangsung, apakah anak mendengkur, apakah pernah terlihat berhenti bernapas ketika tidur, serta seberapa sering anak harus tidak masuk sekolah karena sakit. Catatan sederhana tersebut dapat membantu dokter melihat pola keluhan secara lebih lengkap sebelum menentukan pemeriksaan atau penanganan yang diperlukan.
Amandel bukan sekadar bagian tenggorokan yang “sering sakit”. Pada sebagian anak, pembesaran tonsil dapat berhubungan dengan gangguan pernapasan saat tidur dan memengaruhi kualitas hidup. Karena itu, ketika anak berulang kali mengalami masalah amandel, perhatian orang tua sebaiknya tidak hanya tertuju pada frekuensi sakit tenggorokan, tetapi juga pada cara anak tidur dan bernapas sepanjang malam.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....