Mengapa Perokok Susah Lepas dari Rokok?
- 02 Okt 2026 07:39 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Berhenti merokok bukan sekadar perkara kemauan. Banyak para perokok yang sangat sulit melepaskan kebiasaan merokok karena sudah sangat kecanduan.
Dari sisi medis, rokok mengandung nikotin, zat yang dapat menyebabkan ketergantungan dan memengaruhi sistem penghargaan di otak. Ketika seseorang menghirup asap rokok, nikotin dengan cepat masuk ke aliran darah dan mencapai otak. Zat ini kemudian memicu pelepasan dopamin, yaitu senyawa kimia yang berkaitan dengan rasa senang dan penghargaan.
Menurut dr. Dion Haryadi yang juga merupakan konten kreator kesehatan asal Indonesia, para perokok bukan berarti tidak mengerti bahaya dan kandungan dari rokok, tetapi mereka hanya tidak bisa mengehentikan kebiasaan tersebut.
"Di konten saya banyak yang komen, susah ngomongin perokok, and that's very true. Memang susah banget dan sebenarnya cara terbaik untuk berhenti merokok adalah ketika rasa ingin berhenti itu muncul dari diri sendiri," kata dokter Dion dalam postingan akun TikToknya dikutip Jumat 2 Oktober 2026.
Paparan nikotin yang berulang dapat membuat otak beradaptasi. Seiring waktu, tubuh menjadi terbiasa menerima nikotin dalam jumlah tertentu sehingga seseorang dapat merasa perlu merokok untuk mempertahankan kondisi yang dianggap normal. Inilah salah satu alasan mengapa keinginan merokok bisa muncul berulang kali, bahkan ketika seseorang sebenarnya sudah berniat berhenti.
Ketika asupan nikotin dihentikan, tubuh dapat mengalami gejala putus nikotin. Gejalanya antara lain mudah marah, gelisah, sulit berkonsentrasi, sulit tidur, merasa cemas, dan muncul keinginan kuat untuk kembali merokok. Pada sebagian orang, gejala tersebut dapat terasa cukup mengganggu sehingga mendorong mereka kembali mengonsumsi rokok.
Selain faktor biologis, kebiasaan sehari-hari juga membuat proses berhenti merokok menjadi lebih sulit. Rokok sering dikaitkan dengan aktivitas tertentu, seperti minum kopi, berkumpul bersama teman, setelah makan, atau ketika menghadapi tekanan pekerjaan.
Faktor psikologis juga turut berperan. Sebagian perokok menggunakan rokok sebagai cara yang mereka rasakan dapat membantu menghadapi stres, kebosanan, atau tekanan emosional. Namun, rasa lega yang muncul setelah merokok tidak berarti rokok merupakan solusi terhadap sumber masalah tersebut.
"Saya ngerti banget kesulitan teman-teman untuk berhenti merokok, ada nikmat yang berbeda yang cuma bisa didapatin dari merokok, mungkin juga merokok bisa meringankan beban hidupmu," ujarnya.
Pada akhirnya, sulitnya menghentikan kebiasaan merokok dapat dipahami sebagai persoalan ketergantungan yang melibatkan otak, tubuh, kebiasaan, dan lingkungan. Karena itu, pendekatan terhadap perokok yang ingin berhenti tidak cukup hanya dengan meminta mereka berhenti merokok, tetapi juga harus didasari oleh niat dan keinginan yang kuat dari si perokok.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....