Mengenal Preeklamsia : Keracunan Kehamian yang Tidak Boleh Dianggap Sepele
- 30 Sep 2026 12:48 WIB
- Samarinda
Pre-eklampsia sering disebut awam sebagai "keracunan kehamilan". Padahal ini bukan keracunan makanan, melainkan kondisi berbahaya di mana tekanan darah ibu hamil naik tinggi dan organ seperti ginjal dan hati mulai terganggu karena plasenta tidak bekerja sempurna. Kondisi ini biasanya muncul di atas usia kehamilan 20 minggu. Di Indonesia, pre-eklampsia masih menjadi penyebab nomor 1 kematian ibu dan bayi. Padahal jika dikenali lebih awal, bisa dicegah.
Pre-eklampsia atau yang sering disebut keracunan kehamilan adalah salah satu komplikasi kehamilan yang paling berbahaya dan menjadi penyebab utama kematian ibu dan bayi di Indonesia. Kondisi ini bukanlah keracunan karena makanan, melainkan gangguan pada plasenta yang membuat pembuluh darah ibu menyempit sehingga tekanan darah naik di atas 140/90 mmHg dan organ penting seperti ginjal dan hati mulai terganggu. Biasanya pre-eklampsia baru muncul setelah usia kehamilan 20 minggu, sehingga pada usia kehamilan 27 minggu seperti sekarang, ibu harus lebih waspada.
Ada beberapa faktor yang membuat seorang ibu lebih berisiko mengalami pre-eklampsia, antara lain hamil pertama, usia hamil di bawah 20 tahun atau di atas 35 tahun, hamil kembar, memiliki riwayat darah tinggi atau diabetes sebelum hamil, serta jarak kehamilan yang terlalu dekat. Pertumbuhan janin yang agak kecil, misalnya dengan berat sekitar 993 gram di usia 27 minggu, juga bisa menjadi tanda bahwa aliran darah dari plasenta tidak optimal sehingga perlu pemantauan lebih ketat.
Gejala pre-eklampsia seringkali dianggap sepele padahal sangat berbahaya. Gejala utamanya adalah tekanan darah yang tinggi, sakit kepala hebat di bagian depan yang tidak hilang meski sudah minum obat, pandangan yang tiba-tiba kabur atau berkunang-kunang dan silau saat melihat cahaya, serta nyeri yang sangat perih di ulu hati atau di perut kanan atas. Selain itu, ibu juga bisa mengalami bengkak yang muncul mendadak di wajah, tangan dan kaki sehingga cincin tiba-tiba sesak, mual dan muntah hebat yang muncul kembali di trimester kedua atau ketiga, serta jumlah air kencing yang menjadi sangat sedikit dengan warna gelap dan gerakan janin yang berkurang. Jika satu saja dari gejala tersebut dirasakan, ibu harus segera pergi ke IGD rumah sakit terdekat tanpa menunggu esok hari.
Untuk memastikan diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan tekanan darah, pemeriksaan protein dalam urine, tes darah untuk melihat fungsi hati dan ginjal, serta pemeriksaan USG untuk melihat kondisi janin dan aliran darah plasenta. Penanganan pre-eklampsia tergantung pada berat ringannya. Pada kasus ringan, dokter akan menganjurkan istirahat total dengan posisi miring ke kiri, diet rendah garam, mengontrol tekanan darah setiap beberapa hari di puskesmas, dan pemberian kalsium. Pada kasus berat, ibu harus dirawat inap, diberikan infus, obat penurun tekanan darah seperti methyldopa atau nifedipine, dan obat pencegah kejang. Satu-satunya cara untuk menyembuhkan pre-eklampsia adalah dengan melahirkan bayi dan plasentanya.
Pencegahan dapat dilakukan sejak awal kehamilan dengan cara rutin memeriksa tekanan darah dan protein urine setiap kali kontrol, minum suplemen kalsium sesuai anjuran dokter dengan memberi jarak dua sampai tiga jam dari obat tensi dan tablet tambah darah agar penyerapannya tidak terganggu, minum air putih yang cukup, mengurangi makanan asin dan instan, serta cukup istirahat dan menghindari aktivitas berat yang membuat perut kencang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....