Dilema Penanganan Gangguan Mental dan Perilaku akibat Candu NAPZA

  • 08 Jul 2026 07:03 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif (NAPZA) bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan sebuah penyakit kronis yang menyerang fungsi otak. Ketergantungan ini secara nyata memicu gangguan mental dan perubahan perilaku yang destruktif pada diri penggunanya. Ironisnya, sebagian besar pecandu tidak pernah menyadari bahwa mereka sedang dalam kondisi sakit secara medis.

Karakteristik utama dari kecanduan NAPZA adalah adanya manipulasi sistem syaraf di kepala yang memproduksi sensasi kesenangan palsu. Hal inilah yang mendorong pengguna untuk terus meningkatkan dosis pemakaian, mulai dari mingguan hingga menjadi kebutuhan setiap hari. Perubahan perilaku ini biasanya beriringan dengan ketidakstabilan emosi yang ekstrem dalam interaksi sosial.

Dokter Spesialis Instalasi Pemulihan Ketergantungan NAPZA RSJD Atma Husada Mahakam Kalimantan Timur, dr. Feriza Purwawijaya, menjelaskan bahwa lingkaran setan kecanduan ini kerap berawal dari pengaruh pergaulan. "Rata-rata pasti diajak teman karena ikut-ikutan lah, artinya kalau enggak pakai, enggak gaul. Secara mental dia tidak merasa sedang kecanduan, tapi perilakunya sudah memperlihatkan," ujarnya dalam dialog interaktif Dokter Etam Pro 4 RRI Samarinda pada Kamis, 2 Juli 2026.

Efek putus zat menjadi fase paling krusial yang menunjukkan tingkat keparahan gangguan mental pada seorang pengguna berat. Ketika tubuh tidak mendapat pasokan zat adiktif dalam sehari saja, muncul gejala klinis seperti kegelisahan hebat hingga paranoid. Pada tingkat lanjut, kondisi ini dapat memicu halusinasi dengar maupun visual yang menyerupai gangguan jiwa berat.

"Dia enggak pakai sehari aja itu sudah mulai gelisah, sudah mulai paranoid, dan sudah mulai dengar suara-suara ada halusinasi. Berarti ada gangguan mental secara mentalnya kena," kata dr. Feriza mengenai kondisi pasien yang kerap ditanganinya di RSJD Atma Husada Mahakam. Situasi darurat medis inilah yang membutuhkan intervensi klinis secara cepat.

Oleh sebab itu, proses pengobatan di instalasi rehabilitasi medis harus berjalan secara simultan pada dua fokus utama pasien. Tim medis tidak hanya berupaya membersihkan racun zat dari dalam tubuh (detoksifikasi), tetapi juga wajib memulihkan stabilitas kesehatan mentalnya. Kematangan emosi pasien dibentuk kembali agar mereka memiliki kontrol diri yang kuat saat kembali ke masyarakat.

Melalui pendekatan klinis yang tepat, peluang kesembuhan para korban penyalahgunaan zat adiktif ini tetap terbuka lebar. Sinergi antara dokter, konselor, dan komitmen pasien menjadi kunci utama dalam mereduksi potensi kekambuhan di masa depan. Pemulihan total dari ketergantungan NAPZA memang membutuhkan proses rehabilitasi yang panjang dan tidak instan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....