Jumantik dan 3M Plus Jadi Kunci Tekan Kasus DBD di Kaltim

  • 19 Jun 2026 12:03 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Upaya menekan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kalimantan Timur tidak cukup hanya mengandalkan fasilitas kesehatan dan penanganan medis. Kesadaran masyarakat menjaga lingkungan dinilai menjadi faktor paling menentukan dalam memutus rantai penyebaran penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur, Jaya Mualimin, mengatakan pencegahan DBD harus dimulai dari lingkungan terkecil, yakni rumah tangga. Menurutnya, keberhasilan pengendalian DBD sangat bergantung pada keterlibatan aktif masyarakat dalam menghilangkan tempat berkembang biaknya nyamuk.

“Pencegahan DBD bukan hanya tugas tenaga kesehatan, tetapi menjadi tanggung jawab bersama,” katanya saat peringatan ASEAN Dengue Day di Samarinda, Kamis 18 Juni 2026.

Jaya menjelaskan perubahan cuaca dan musim pancaroba kerap meningkatkan risiko penyebaran DBD. Pada kondisi tersebut, genangan air yang tidak terkelola dengan baik dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk pembawa virus dengue.

Karena itu, masyarakat diminta terus menerapkan gerakan 3M Plus secara konsisten, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah penyimpanan air, serta mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. Langkah tersebut perlu didukung berbagai upaya tambahan sesuai kondisi lingkungan masing-masing.

Selain gerakan 3M Plus, Jaya menilai peran Juru Pemantau Jentik (Jumantik) masih sangat penting dalam pengendalian DBD. Keberadaan kader Jumantik di tingkat RT maupun rumah tangga menjadi ujung tombak dalam mendeteksi dini keberadaan jentik nyamuk sebelum berkembang menjadi ancaman kesehatan masyarakat.

“Keberadaan kader Jumantik menjadi ujung tombak dalam mendeteksi dan mencegah penyebaran DBD di lingkungan sekitar,” ujarnya.

Menurut Jaya, pengendalian DBD memerlukan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, fasilitas pendidikan, organisasi kemasyarakatan, kader kesehatan, hingga masyarakat. Edukasi yang terus dilakukan harus dibarengi dengan tindakan nyata menjaga kebersihan lingkungan secara berkelanjutan.

Ia menambahkan target zero death dengue atau nol kematian akibat DBD pada 2030 hanya dapat dicapai apabila seluruh elemen masyarakat bergerak bersama. Kesadaran kolektif dinilai menjadi fondasi utama dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas dari potensi penyebaran penyakit.

Melalui momentum ASEAN Dengue Day 2026, Dinas Kesehatan Kaltim berharap masyarakat tidak hanya memahami bahaya DBD, tetapi juga menjadikan pencegahan sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari. Dengan langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten, risiko penyebaran DBD diyakini dapat ditekan secara signifikan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....